PERJANJIAN PELAKSANAAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PERIODE I TAHUN ANGGARAN 2022
PERJANJIAN PELAKSANAAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PERIODE I TAHUN ANGGARAN 2022
NOMOR : 0220-Int-KLPPM/UNTAR/III/2022
Pada hari ini Jumat tanggal 11 bulan Maret tahun 2022 yang bertanda tangan dibawah ini:
1. Nama : ▇▇. ▇▇▇ ▇▇▇ ▇▇▇▇, Ph.D.
Jabatan : Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Alamat : Jl. Letjen S. ▇▇▇▇▇▇ No. 1 Jakarta Barat 11440
selanjutnya disebut Pihak Pertama
2. Nama : ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, S.E., M.M., Ak., C.A., CPA., CPMA., ACPA. Jabatan : Dosen Tetap
Fakultas : Ekonomi
Alamat : Jl. Tanjung Duren Utara, No. 1 Jakarta Barat 11470 selanjutnya disebut Pihak Kedua
Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat mengadakan Perjanjian Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat sebagai berikut:
Pasal 1
(1). Pihak Pertama menugaskan Pihak Kedua untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat atas nama Universitas Tarumanagara dengan judul "Activity Based Costing Sebagai Alat Untuk Penetapan Harga Jual Produk Yang Kompetitif Di Masa Pandemi Covid-19 Pada PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya"
(2). Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan berdasarkan perjanjian ini dan Perjanjian Luaran Tambahan PKM.
(3). Perjanjian Luaran Tambahan PKM pembiayaannya diatur tersendiri.
Pasal 2
(1). Biaya pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud Pasal 1 di atas dibebankan kepada Pihak Pertama melalui anggaran Universitas Tarumanagara.
(2). Besaran biaya pelaksanaan yang diberikan kepada Pihak Kedua sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh juta rupiah), diberikan dalam 2 (dua) tahap masing-masing sebesar 50%.
(3). Pencairan biaya pelaksaaan Tahap I akan diberikan setelah penandatangangan Perjanjian Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat.
(4). Pencairan biaya pelaksanaan Tahap II akan diberikan setelah Pihak Kedua melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, mengumpulkan laporan akhir, logbook, laporan pertanggungjawaban keuangan dan luaran/draf luaran.
(5). Rincian biaya pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) terlampir dalam Lampiran Rencana dan Rekapitulasi Penggunaan Biaya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam perjanjian ini.
Pasal 3
(1). Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat akan dilakukan oleh Pihak Kedua sesuai dengan proposal yang telah disetujui dan mendapatkan pembiayaan dari Pihak Pertama.
(2). Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam Periode I, terhitung sejak Januari – Juni 2022
Pasal 4
(1). Pihak Pertama mengadakan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Pihak Kedua.
(2). Pihak Kedua diwajibkan mengikuti kegiatan monitoring dan evaluasi sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh Pihak Pertama.
(3). Sebelum pelaksanaan monitoring dan evaluasi, Pihak Kedua wajib mengisi lembar monitoring dan evaluasi serta melampirkan laporan kemajuan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dan logbook.
(4). Laporan Kemajuan disusun oleh Pihak Kedua sesuai dengan Panduan Pengabdian Kepada Masyarakat yang telah ditetapkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
(5). Lembar monitoring dan evaluasi, laporan kemajuan dan logbook diserahkan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan.
Pasal 5
(1). Pihak Kedua wajib mengumpulkan Laporan Akhir, Logbook, Laporan Pertanggungjawaban Keuangan, dan luaran/draf luaran.
(2). Laporan Akhir disusun oleh Pihak Kedua sesuai dengan Panduan Pengabdian Kepada Masyarakat yang telah ditetapkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
(3). Logbook yang dikumpulkan memuat secara rinci tahapan kegiatan yang telah dilakukan oleh Pihak Kedua dalam pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat
(4). Laporan Pertanggungjawaban yang dikumpulkan Pihak Kedua memuat secara rinci penggunaan biaya pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat yang disertai dengan bukti-bukti.
(5). Luaran Pengabdian Kepada Masyarakat yang dikumpulkan kepada
Pihak Kedua berupa luaran wajib dan luaran tambahan.
(6). Luaran wajib hasil Pengabdian Kepada Masyarakat berupa artikel ilmiah yang dipublikasikan di ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ IV 2022, jurnal ber-ISSN atau prosiding nasional/internasional.
(7). Selain luaran wajib sebagaimana disebutkan pada ayat (6) di atas,
Pihak Kedua wajib membuat poster untuk kegiatan Research Week. (8). Draft luaran wajib dibawa pada saat dilaksanakan Monitoring dan
Evaluasi (Monev) PKM.
(9). Batas waktu pengumpulan Laporan Akhir, Logbook, Laporan Pertanggungjawaban Keuangan, dan luaran adalah Juni 2022
Pasal 6
(1). Apabila Pihak Kedua tidak mengumpulkan Laporan Akhir, Logbook, Laporan Pertanggungjawaban Keuangan, dan Luaran sesuai dengan batas akhir yang disepakati, maka Pihak Pertama akan memberikan sanksi.
(2). Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) proposal pengabdian kepada masyarakat pada periode berikutnya tidak akan diproses untuk mendapatkan pendanaan pembiayaan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
Pasal 7
(1). Dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Pihak Kedua dibantu oleh Asisten Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat yang identitasnya sebagai berikut:
a. Jocevine ▇▇▇▇▇▇/125190075/Fakultas Ekonomi/Akuntansi
(2). Pelaksanaan asistensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut dalam Surat tugas yang diterbitkan oleh Pihak Pertama.
Pasal 8
(1). Apabila terjadi perselisihan menyangkut pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini, kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah.
(2). Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai, keputusan diserahkan kepada Pimpinan Universitas Tarumanagara.
(3). Keputusan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini bersifat final dan mengikat.
Demikian Perjanjian Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dibuat dengan sebenar-benarnya pada hari, tanggal dan bulan tersebut diatas dalam rangka 3 (tiga), yang masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama.
Pihak Pertama Pihak Kedua
▇▇. ▇▇▇ ▇▇▇ ▇▇▇▇, Ph.▇. ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, S.E., M.M., Ak., C.A., CPA., CPMA., ACPA.
RENCANA PENGGUNAAN BIAYA (Rp)
Rencana Penggunaan Biaya | Jumlah |
Honorarium | Rp 0,- |
Pelaksanaan Kegiatan | Rp 7.000.000,- |
REKAPITULASI RENCANA PENGGUNAAN BIAYA (Rp)
NO | POS ANGGARAN | TAHAP I (50 %) | TAHAP II (50 %) | JUMLAH |
1 | Honorarium | Rp 0,- | Rp 0,- | Rp 0,- |
2 | Pelaksanaan Kegiatan | Rp 3.500.000,- | Rp 3.500.000,- | Rp 7.000.000,- |
Jumlah | Rp 3.500.000,- | Rp 3.500.000,- | Rp 7.000.000,- |
Jakarta, 11 Maret 2022
▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, S.E., M.M., Ak., C.A., CPA., CPMA., ACPA.
No: 0220-Int-KLPPM/UNTAR/III/2022
▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇
▇▇▇▇▇ TIM
Activity Based Costing Sebagai Alat Untuk Penetapan Harga Jual Produk Yang Kompetitif di Masa Pandemi Covid-19 Pada PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya
Januari – Juni 2022
LAPORAN AKHIR
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT YANG DIAJUKAN
KE LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
ACTIVITY BASED COSTING SEBAGAI ALAT UNTUK PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK YANG KOMPETITIF DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA PT FELIXINDO RUBBER BERKARYA
Disusun oleh:
Ketua Tim
▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, S.E., M.M., Ak., C.A., CPA., CPMA., ACPA. (0316067002 / 10195010)
Nama Mahasiswa:
▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ (125190075)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA
2022
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Periode 1/Tahun 2022
1. Judul PKM : Activity Based Costing Sebagai Alat Untuk Penetapan Harga Jual Produk Yang Kompetitif Di Masa Pandemi Covid-19 Pada PT Felixindo Rubber Berkarya
2. Nama Mitra PKM : PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya
3. Ketua Tim PKM
a. Nama dan gelar : ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, S.E., M.M., Ak., C.A., CPA., CPMA., ACPA.
b. NIDN/NIK : 0316067002 / 10195010
▇. ▇▇▇▇▇an/gol. : ▇▇▇▇▇▇
d. Program studi : S1 Akuntansi
e. Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
▇. ▇▇▇▇▇▇ keahlian : Audit, Sistem Informasi Akuntansi
g. Alamat kantor : Tanjung Duren Utara No. 1, Jakarta Barat
h. Nomor HP/Telpon 08161956221
4.Anggota Tim PKM (Mahasiswa) : Mahasiswa 1 orang
a. Nama mahasiswa dan NIM : ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ (125190075)
b. Nama mahasiswa dan NIM : -
▇. ▇▇▇▇ mahasiswa dan NIM : -
d. Nama mahasiswa dan NIM : -
5. Lokasi Kegiatan Mitra :
a. Wilayah mitra : Jl. Raya Bekasi No. 2, Cikarang Barat
b. Kabupaten/kota : Bekasi
c. Provinsi : Bekasi
d. Jarak PT ke lokasi mitra : 24 km
6. a. Luaran Wajib : Artikel di SERINA IV UNTAR 2022
b. Luaran Tambahan : Artikel di PINTAR
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : Periode 1 (Januari-Juni)
8. Biaya yang disetujui LPPM : Rp 9.000.000
Jakarta, 21 Juni 2022
Menyetujui,
Ketua LPPM Ketua
▇▇▇ ▇▇▇ ▇▇▇▇, Ph. D ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, S.E., M.M., Ak., C.A., CPA., CPMA., ACPA. NIK: 10381047 NIDN/NIK: 0316067002 / 10195010
RINGKASAN
Permasalahan yang dihadapi oleh mitra yaitu PT Felixindo Rubber Berkarya adalah harga jual produk perusahaan kurang dapat bersaing, hasil perhitungan beban overhead perusahaan yang dibebankan ke produk menjadi tidak akurat dan bias, tidak adanya standar urutan proses pembuatan suatu produk, dan perhitungan beban pokok produksi perusahaan menjadi tidak akurat. ▇▇▇ ▇▇▇▇abdian Kepada Masyarakat (PKM) yaitu dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara menawarkan solusi agar perusahaan menerapkan sistem perhitungan biaya berbasis aktivitas. Target yang hendak dicapai dari pelatihan ini adalah agar perusahaan dapat menerapkan activity-based costing sebagai alat untuk penetapan harga jual produk yang kompetitif. Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah pertama-tama tim PKM melakukan survei terlebih dahulu dan berdasarkan survei tersebut PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya meminta agar ada solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan. Langkah awal, tim PKM akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai teori atau konsep yang terkait dengan konsep activity-based costing. Tahap selanjutnya, tim PKM akan membimbing bagaimana mengimplementasikan sistem perhitungan biaya berbasis aktivitas. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya dapat memahami manfaat dari penerapan activity-based costing sebagai alat untuk penetapan harga jual produk yang kompetitif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diakhiri dengan membuat artikel SERINA sebagai luaran wajib, artikel di media PINTAR sebagai luaran tambahan, poster, laporan akhir, dan laporan keuangan atas kegiatan yang telah dilakukan. Seluruh kegiatan ini dilakukan sejak bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2022.
Kata kunci: PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya, Activity Based Costing, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇
PRAKATA
Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah terlaksananya kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di PT Felixindo Rubber Berkarya yang terletak di Jl. Raya Bekasi No. 2, Cikarang Barat. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini para dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara memberikan pelatihan bagaimana menerapkan activity-based costing sebagai alat untuk penetapan harga jual produk yang kompetitif.
Untuk tahap awal sebelum diberikan pelatihan, akan dilakukan survei pendahuluan untuk mengetahui apa permasalahan yang dihadapi oleh mitra. Selanjutnya, dosen mengimplementasikan sistem pembebanan beban produksi berdasarkan activity-based costing.
Kami menyadari bahwa kegiatan yang telah dilaksanakan ini masih jauh dari sempurna. Untuk ini setiap kritik dan saran yang membangun akan sangat berguna. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kami hingga terselenggaranya kegiatan ini, Rektor Universitas Tarumanagara, LPPM Universitas Tarumanagara, Dekan, segenap pimpinan Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara, PT Felixindo Rubber Berkarya, dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Jakarta, 21 Juni 2022
Tim Pelaksana
▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL. . . . . . . . . i HALAMAN PENGESAHAN. . . . . . . . ii
RINGKASAN. . . . . . . . . . iii
PRAKATA. . . . . . . . . . . iv
DAFTAR ISI. . . . . . . . . . . v
DAFTAR GAMBAR.. . . . . . . . . vi
DAFTAR LAMPIRAN. . . . . . . . . vii
BAB I PENDAHULUAN. . . . . . . . . 1
1.1 Analisis Situasi. . . . . . . . . 1
1.2 Permasalahan Mitra. . . . . . . . 4
BAB II SOLUSI PERMASALAHAN DAN LUARAN. . . . . 7
2.1 Solusi Permasalahan. . . . . . . . 7
2.2 Luaran Kegiatan PKM. . . . . . . . 7
BAB III METODE PELAKSANAAN. . . . . . . 8
3.1 Langkah-Langkah/Tahapan Pelaksanaan. . . . . 8
3.2 Partisipasi Mitra Dalam Kegiatan PKM. . . . . . 8
3.3 Kepakaran Dan Pembagian Tugas Tim. . . . . . 8
BAB IV HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI. . . . . 10
4.1 Hasil Yang Dicapai. . . . . . . . 10
4.2 Luaran Yang Dicapai. . . . . . . . 11
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. . . . . . . 12
5.1 Kesimpulan. . . . . . . . . 12
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1. Foto saat Kegiatan PKM berlangsung Gambar 4.2. Foto saat Kegiatan PKM berlangsung
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Materi Yang Disampaikan Pada Saat Kegiatan Lampiran 2. Foto-Foto Kegiatan
Lampiran 3. Luaran Wajib Lampiran 4. Luaran Tambahan Lampiran 5. Poster
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Masa pandemi ini merupakan masa yang sangat sulit yang dihadapi oleh hampir semua perusahaan dalam berbagai industri. Banyak perusahaan yang tidak dapat bertahan untuk tetap hidup di masa pandemi ini. Berbagai macam cara dan strategi dilakukan oleh perusahaan agar dapat bertahan hidup seperti pemberian diskon agar pelanggan tertarik untuk membeli, memberikan kelonggaran dalam termin pembayaran, melakukan efisiensi biaya, membuat produk yang lebih terjangkau dan berbagai strategi lainnya. Salah satu strategi yang paling mudah dan banyak dilakukan oleh perusahaan adalah dengan cara menyesuaikan harga jual produk. Melakukan penyesuaian harga jual produk walaupun terlihat sangat mudah, sebenarnya tidak sesederhana yang dipikirkan dan dilihat. Untuk melakukan strategi ini, perusahaan harus memahami secara mendalam mengenai struktur biaya yang ada di perusahaan. Perusahaan harus yakin bahwa di dalam melakukan perhitungan beban pokok produksi sudah tepat dan akurat karena jika terjadi kesalahan dalam menghitung beban pokok produksi akan fatal akibatnya bagi perhitungan laba perusahaan dan juga perusahaan dapat melakukan pengambilan keputusan yang salah dan fatal terkait dengan proses penentuan harga jual produk. Masalah ini juga dialami oleh mitra kami yaitu PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya dalam menentukan strategi harga jual produknya di masa pandemi ini dimana situasi pasar yang sedang lesu.
PT Felexindo Rubber Berkarya ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi berbagai macam produk karet untuk keperluan industri seperti produk karet O Ring, karet untuk peralatan olahraga, karet untuk industri furniture, karet vakum, karet otomotif, karet butly sealing tape, karet untuk sol sepatu pada industri sepatu, karet penahan getaran untuk industri mesin, selang silicon, dan lainnya. Pabrik karet PT Felixindo ini mengolah, mendesain, mengembangkan, memproduksi berbagai macam produk cetakan dan juga komponen karet untuk industri karet dan industri lainnya. Produk perusahaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan berbagai macam kebutuhan karet industri, mesin industri, ataupun aplikasi karet di bidang lainnya sesuai dengan permintaan pelanggan.
Cikal bakal dari PT Felixindo ini berawal dari sebuah toko yang menjual produk karet yang berlokasi di pasar HWI Lindeteves Glodok pada tahun 1990an. ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ membuka toko kecil untuk menjual produk karet untuk keperluan industri dengan tujuan agar dapat mandiri terpisah dari bisnis orangtuanya yang juga berkecimpung di bidang ini. Industri ini memang sudah ditekuni oleh keluarga ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ sejak berpuluh tahun yang lalu. Toko di HWI Lindeteves ini mempunyai banyak pelanggan dari berbagai kota di Indonesia. Hal ini dikarenakan toko ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ini yang bernama toko Aneka Karetindo mempunyai stok berbagai macam produk karet bahkan untuk produk yang cukup langka sekalipun sehingga banyak pelanggan yang rutin membeli dari toko ini.
Seiring dengan berkembangnya toko Aneka Karetindo ini dan juga pelanggannya sudah mulai banyak yang merupakan perusahaan menengah dan besar, maka ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ merasa usaha dagangnya yang hanya berupa toko sudah tidak memadai untuk melayani pelanggannya yang sudah banyak ini dan juga banyak yang merupakan perusahaan besar. Untuk itu pada tahun 2000 didirikanlah PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya ini yang merupakan perusahaan manufaktur produk karet untuk keperluan industri. Sekarang perusahaan memproduksi sendiri semua produk karet yang dijualnya sehingga harga jual produk perusahaanpun menjadi semakin bersaing dan kompetitif. PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya ini didirikan di atas lahan yang tidak terlalu luas di daerah kawasan industri Kapuk Raya. Dikarenakan jaringan bisnis dan mutu produk yang bagus, maka perusahaan terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Karyawan yang mulanya hanya beberapa orang saja mulai meningkat menjadi puluhan orang dan hal ini membuat luasnya perusahaan menjadi tidak memadai lagi untuk mengikuti kemajuan perusahaan. Selain itu juga kawasan Kapuk ini semakin hari semakin macet dan tidak teratur ditambah lagi dengan selalu mengalami banjir jika musim hujan tiba. Oleh karena itu mulailah dicari lokasi baru yang dianggap layak dan strategis untuk lokasi pabrik dan pindah. Pilihan jatuh di daerah Bekasi karena daerah Bekasi ini merupakan daerah yang sedang berkembang dengan cukup pesat dan juga ternyata di daerah ini banyak tersedia sumber daya tenaga kerja yang cukup banyak sehingga dirasakan akan sangat membantu jalannya perusahaan. Luas lahan yang digunakan untuk operasional pabrik di Bekasi ini kurang lebih sekitar 1 hektar. Dengan luas seperti ini perusahaan melakukan ekspansi pembelian mesin produksi yang cukup agresif untuk memenuhi permintaan pelanggan yang terus meningkat.
Persaingan dalam industri produk karet ini juga semakin lama semakin meningkat dimana banyak mulai berdiri perusahaan industri karet baru yang menawarkan harga yang
cukup bersaing kepada pelanggan perusahaan. Hal ini membuat perusahaan harus lebih kompetitif dan efisien sehingga dapat memberikan harga yang bersaing dengan para pesaingnya. Dalam penentuan harga jual perusahaan pastilah berpedoman dari beban pokok produksi yang dihasilkan oleh bagian akuntansi perusahaan. Oleh sebab itu perhitungan beban pokok produksi yang tepat dan akurat sangatlah diperlukan perusahaan agar dapat bersaing dan memberikan harga yang kompetitif untuk pelanggannya.
Pada beberapa tahun belakangan ini seiring dengan semakin banyaknya persaingan dan banyak juga yang sudah mulai mengarah ke persaingan yang kurang sehat, kinerja perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini diperparah lagi dengan adanya pandemi COVID-19 sejak tahun 2020. Pandemi ini membuat perusahaan semakin merasa kesulitan di dalam bersaing dengan para pesaingnya terutama bersaing di faktor harga. Banyak pesaing terutama perusahaan yang memiliki modal yang kuat yang menjalankan strategi predatory pricing sehingga hal ini akan membahayakan kelangsungan hidup perusahaan lainnya.
Masalah ini merupakan masalah yang sangat serius yang pasti menjadi perhatian utama dari perusahaan. Saat ini kinerja keuangan perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan dimana omset penjualan perusahaan turun hampir 15% (lima belas persen) dan laba perusahaan yang biasa diukur dengan rasio Earning Before Interest & Tax (EBIT) juga mengalami penurunan sekitar 11% (sebelas persen). Beberapa alternatif cara yang sudah mulai dipertimbangkan perusahaan untuk dijalankan guna mengatasi hal ini adalah:
1. Melakukan review terhadap perhitungan beban pokok produksi perusahaan untuk mengevaluasi apakah ada biaya yang dapat dikeluarkan atau dihindari dari unsur beban pokok produksi perusahaan saat ini. Hal ini memerlukan usaha yang cukup besar untuk mereview kembali metode perhitungan beban pokok produksi dan juga menganalisa secara detail semua unsur yang ada di dalam beban pokok produksi saat ini. Dengan kegiatan ini perusahaan berharap dapat lebih kompetitif di dalam penerapan pricing untuk produknya.
2. Melakukan program efisiensi biaya operasional yang ada di perusahaan. Program ini direncanakan untuk mengurangi biaya-biaya operasional yang dirasakan kurang bermanfaat dan tidak mendesak untuk dikeluarkan, seperti biaya promosi, biaya makan dan jamuan.
3. Melakukan restrukturisasi organisasi dengan cara melakukan seleksi kembali karyawan yang ada di perusahaan dan secara bertahap perusahaan akan melakukan perampingan organisasi. Hal ini akan berdampak pengurangan personil yang ada.
4. Merekayasa proses produksi untuk mencari metode produksi yang lebih efisien dan murah sehingga diharapkan terjadi penurunan biaya yang ada di perusahaan yang pada ujungnya nanti akan membuat laba perusahaan meningkat.
Mitra sangat mengharapkan bantuan tim untuk dapat memberikan alternatif solusi dan masukan apakah rencana-rencana di atas tersebut dapat diterapkan untuk perusahaan dan risiko-risiko apa yang dapat timbul dari implementasi rencana di atas tersebut. Tim tertarik untuk memfokuskan pada point nomor 1 yaitu melakukan review terhadap metode perhitungan beban pokok produksi yang saat ini dilakukan dan juga tim akan mencoba untuk mengusulkan untuk menerapkan sistem perhitungan beban pokok produksi berdasarkan aktivitas (activity-based costing) yang menurut penilaian tim cukup tepat diterapkan oleh perusahaan agar perusahaan dapat bersaing. Activity-based costing menurut ▇▇▇▇▇ dan Groot (2013) adalah suatu sistem perhitungan beban pokok produksi yang berbasis aktivitas yang timbul dari kegiatan memproduksi produk. Menurut ▇▇▇▇▇▇ et al. (2020) sistem perhitungan beban pokok produksi yang berbasis aktivitas menggunakan jenis pemicu biaya yang lebih banyak sehingga sumber daya yang digunakan oleh produk dapat diukur lebih akurat.
1.2 Permasalahan Mitra
Untuk memenuhi permintaan dari mitra terkait masalah yang dihadapi, tim mulai mencoba untuk mengumpulkan data dan informasi yang sebanyak-banyaknya dari mitra agar tim dapat memberikan solusi yang tepat dan implementif untuk mitra. Metode yang digunakan antara lain adalah tim secara langsung mendatangi lokasi mitra di Bekasi untuk melakukan observasi terhadap proses kegiatan produksi yang dilakukan perusahaan guna memahami secara mendalam mengenai proses produksi, proses alur dari perpindahan barang di pabrik, dan bagaimana cara pencatatan dan perhitungan beban pokok produksi yang saat ini berjalan. Sesekali tim mengajukan pertanyaan kepada staf terkait jika tim melihat ada suatu hal atau proses yang tim kurang pahami dan juga tim bertanya secara mendalam mengapa proses tersebut dilakukan dengan cara demikian.
Selain observasi di lapangan, tim juga mengadakan beberapa kali rapat koordinasi secara daring dan luring. Dalam rapat tersebut, tim banyak melakukan diskusi yang cukup intensif dengan pemilik dan staf inti perusahaan guna lebih memahami proses produksi dan cara perhitungan beban pokok produksi yang dilakukan perusahaan. ▇▇▇ juga banyak meminta masukan dan saran dari karyawan inti perusahaan karena tim merasa merekalah pihak yang paling paham mengenai proses produksi perusahaan. Menurut Datar dan Rajan (2018) dalam sistem perhitungan biaya berbasis aktivitas, biaya produksi terutama biaya overhead pabrik akan dialokasikan ke produk dengan dasar jumlah dari aktivitas ke produk yang dihasilkan. Di lokasi pabrik, tim banyak melakukan pengamatan terhadap prosedur dan proses produksi perusahaan karena untuk menerapkan sistem perhitungan biaya berbasis aktivitas, tim harus memahami secara mendalam mengenai urutan proses produksi barang agar tim dapat menentukan aktivitas mana yang perlu dan aktivitas mana yang tidak diperlukan untuk dimasukkan ke dalam beban pokok produksi barang.
Beberapa hal yang menjadi fokus perhatian yang menurut tim merupakan masalah pokok yang dihadapi perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Metode perhitungan beban produksi yang dilakukan oleh pihak mitra saat ini tidak tepat dan bias karena banyak unsur biaya yang tidak seharusnya masuk ke dalam beban pokok produksi tetapi dimasukkan ke dalam perhitungan beban pokok produksi sehingga nilai beban pokok produksi mitra menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya. Hal ini akan mengakibatkan harga jual produk perusahaan menjadi lebih tinggi dan kurang dapat bersaing dengan pesaing.
2. Menurut ▇▇▇▇▇▇▇ et al. (2019) pada sistem perhitungan biaya tradisional (traditional costing system), pembebanan beban overhead hanya menggunakan satu dasar alokasi saja. Perusahaan masih mengunakan sistem perhitungan beban pokok produksi secara tradisional, padahal variasi dan aktivitas yang diperlukan untuk menghasilkan produk perusahaan yang beraneka ragam itu berbeda-beda. Hal ini akan mengakibatkan hasil perhitungan beban overhead perusahaan yang dibebankan ke produk menjadi tidak akurat dan bias.
3. Menurut ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇ et al. (2020) aktivitas standar yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk harus bisa diidentifikasi sehingga terdapat standar urutan proses pembuatan produk yang nantinya akan memudahkan perhitungan beban produksi. Mitra selama ini tidak pernah mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas standar yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk sehingga mitra tidak mempunyai informasi yang akurat
mengenai proses dan urutan kegiatan baku yang diperlukan untuk membuat suatu produk. Hal ini akan mengakibatkan tidak adanya standar urutan proses pembuatan suatu produk sehingga akan sulit untuk menghitung beban produksi jika akan menggunakan sistem perhitungan beban produksi berbasis aktivitas.
4. Belum adanya standar metode dan perhitungan alokasi beban overhead dan juga alokasi biaya produksi bersama (joint cost). Hal ini akan mengakibatkan perhitungan beban pokok produksi perusahaan menjadi tidak akurat.
Dari hasil identifikasi masalah awal di atas, tim menyampaikan akibat yang dapat terjadi dari masalah-masalah tersebut. Pihak mitra menyadari akan bahayanya masalah ini jika tidak sesegera mungkin diselesaikan. Pihak mitra sangat mengharapkan tim dapat membantu perusahaan untuk menyelesaikan masalah yang telah teridentifikasi.
BAB II
SOLUSI PERMASALAHAN DAN LUARAN
2.1 Solusi Permasalahan
Berdasarkan hasil rapat, diskusi dan interview yang intensif, tim mulai mendapat titik terang mengenai masalah-masalah utama apa yang menjadi penyebab masalah ini dan dimana titik pusat permasalahannya. Tim mulai menyusun dan menentukan identifikasi masalah yang ada serta menyusun suatu kerangka kerja yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada. Berdasarkan hasil analisa yang cukup mendalam yang telah dilakukan, tim berpendapat pihak mitra perlu untuk mengganti metode perhitungan beban produksinya dari sistem tradisional menjadi sistem berbasis aktivitas. Hal ini tim sarankan mengingat banyaknya variasi produk perusahaan yang juga membutuhkan proses dan urutan produksi yang berbeda antara satu produk dengan produk lainnya (McWatters dan Zimmerman, 2016). Sistem pembebanan beban produksi yang saat ini digunakan yaitu sistem traditional costing sangatlah tidak tepat untuk perusahaan yang memiliki variasi produk yang sangat banyak (▇▇▇▇▇▇▇▇ et al., 2013). Tim memiliki keyakinan yang cukup tinggi bahwa penggantian metode costing ini akan banyak membantu perusahaan dalam menghitung beban pokok produksi, yang pada ujungnya nanti akan membuat perusahaan dapat melakukan strategi pricing yang lebih kompetitif dan akurat.
2.2 Luaran Kegiatan PKM
No. | Jenis Luaran | Keterangan |
Luaran Wajib | ||
1. | Publikasi ilmiah pada jurnal ber ISSN atau | |
2. | Prosiding dalam temu ilmiah | Sudah submit di SERINA IV UNTAR 2022 |
Luaran Tambahan (wajib ada) | ||
1. | Publikasi di jurnal internasional | |
2. | Publikasi di media massa | Draft di PINTAR |
3. | Hak Kekayaan Intelektual (HKI) | |
4. | Teknologi Tepat Guna (TTG) | |
5. | Model/purwarupa/karya desain | |
6. | Buku ber ISBN | |
BAB III METODE PELAKSANAAN
3.1 Langkah-Langkah/Tahapan Pelaksanaan
Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh mitra, maka tim PKM dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara menawarkan solusi yaitu menerapkan sistem activity-based costing sebagai alat untuk penetapan harga jual produk yang kompetitif di masa pandemi covid-19 pada PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya. Tahapan metode yang digunakan adalah:
1. Pertama-tama akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai teori atau konsep yang terkait dengan konsep activity-based costing.
2. Selanjutnya tim PKM akan membimbing bagaimana mengimplementasikan sistem pembebanan beban produksi berdasarkan activity-based costing.
3.2 Partisipasi Mitra Dalam Kegiatan PKM
Mitra akan menyediakan tempat pelatihan dan memberikan jadwal pelatihan untuk disesuaikan dengan jadwal dosen. Selain itu, ▇▇▇▇▇ juga diminta untuk menentukan jumlah personil yang akan diberikan pelatihan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama.
3.3 Kepakaran Dan Pembagian Tugas Tim
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara yaitu ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ memiliki pengetahuan dan pengalaman mengajar selama belasan tahun. Dosen juga memiliki kepakaran dalam bidang Audit dan Sistem Informasi Akuntansi. Tugas dari masing-masing anggota adalah sebagai berikut:
Ketua: ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, bertugas:
1. Mencari mitra yang bersedia untuk menerima dosen dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.
2. Melakukan survei kepada mitra untuk mengetahui permasalahan apa yang dihadapi, terkait dengan bidang akuntansi.
3. Mencari solusi untuk mengatasi permasalahan mitra.
4. Berkomunikasi dengan mitra untuk kelancaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
5. Menyusun proposal yang ditujukan ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
6. Menyerahkan proposal ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
7. Mengkoordinir pembuatan materi pembekalan yang akan diberikan kepada mitra.
8. Mengkoordinir persiapan awal pembekalan kepada mitra.
9. Mengkoordinir pembelian perlengkapan yang akan digunakan dalam pelaksanaan dan pelaporan kegiatan PKM ini.
10. Mengkoordinir persiapan akhir pembekalan kepada mitra.
11. Melaksanakan kegiatan pembekalan sesuai dengan jadwal kegiatan.
12. Mengkoordinir pembuatan laporan kemajuan untuk monitoring dan evaluasi.
13. Menyerahkan laporan kemajuan ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat dan mengikuti kegiatan monitoring dan evaluasi secara daring.
14. Mengkoordinir pembuatan modul, laporan akhir, dan laporan pertanggungjawaban keuangan.
15. Menyerahkan laporan akhir, laporan pertanggungjawaban keuangan, modul, logbook, serta CD yang berisi laporan kegiatan dan laporan pertanggungjawaban keuangan ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
16. Mengkoordinir pembuatan artikel dan poster yang akan diseminarkan atau diterbitkan di SERINA IV UNTAR 2022, Research Week, ataupun di forum atau media lainnya.
Mahasiswa: ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, bertugas:
1. Membantu ketua membuat materi pembekalan.
2. Bersama ketua memberikan pembekalan secara online kepada ▇▇▇▇▇.
3. Membuat daftar perlengkapan yang diperlukan untuk pelaksanaan dan pelaporan kegiatan PKM ini.
4. Mendokumentasikan pelaksanaan pembekalan kepada ▇▇▇▇▇.
5. Bersama dengan ketua membuat laporan kemajuan dan mengikuti kegiatan monitoring
dan evaluasi secara daring.
6. Bersama dengan ketua membuat modul, laporan akhir, laporan pertanggungjawaban keuangan, artikel, dan poster.
BAB IV
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
4.1 Hasil Yang Dicapai
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diadakan dengan jadwal kelas akuntansi pada hari Sabtu agar tidak mengganggu kegiatan operasi perusahaan, yaitu pada tanggal: tanggal 5, 12, dan 19 Maret 2022. Kegiatan pelatihan ini diadakan melalui Zoom.
Saat pelatihan pertama, yaitu pada tanggal 5 Maret 2022, kami menjelaskan terlebih dahulu mengenai jenis-jenis biaya, elemen dari harga pokok produksi, menentukan harga pokok produksi dengan metode konvensional dan kelemahannya, sehingga lebih baik menggunakan sistem activity-based costing. Sistem ABC memiliki tingkat presisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknik perhitungan biaya tradisional.
Pada pertemuan selanjutnya, yaitu tanggal 12 Maret 2022 kami menjelaskan cara penentuan tarif dengan menggunakan sistem activity-based costing dan juga kelemahan dari sistem tersebut. Kami juga meminta kepada para peserta untuk mencoba menghitung harga pokok produksi, yang selama ini menggunakan sistem tradisional, dengan menggunakan sistem activity-based costing, dikarenakan mereka telah mendapatkan teorinya dan sekarang adalah saat yang tepat untuk menerapkan sistem yang baru dipelajari agar mereka dapat menghitung harga pokok produksi dengan tepat.
Pertemuan terakhir yaitu pada tanggal 19 Maret 2022, kami masih membimbing para peserta agar mereka dapat mengidentifikasi aktivitas-aktivitas standar, dapat mengalokasikan beban overhead dan biaya produksi bersama ke produk. Dengan demikian, perhitungan harga pokok produksi akan menjadi lebih akurat dan pada akhirnya penentuan harga jual produk juga dapat lebih akurat.
Berikut adalah foto-foto selama pelatihan:
Gambar 4.1. Foto saat Kegiatan PKM berlangsung
Gambar 4.2. Foto saat Kegiatan PKM berlangsung
4.2 Luaran Yang Dicapai
Luaran yang dicapai adalah membuat draft artikel yang telah diseminarkan dalam SENRINA IV UNTAR 2022, poster untuk disertakan di acara Research Week yang diadakan oleh Universitas Tarumanagara, dan artikel di PINTAR.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Sebelum kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan, terlebih dahulu tim kami melakukan survey ke Mitra, yaitu PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya pada tanggal 22 Januari 2022. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat berupa pelatihan activity-based costing sebagai alat untuk menentukan harga jual produk yang kompetitif. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 3 kali, melalui zoom. Pelatihan pertama diadakan pada tanggal 5 Maret 2022 dengan menjelaskan teori perhitungan biaya produksi dengan metode konvensional dan kelemahannya. Pelatihan kedua diadakan pada tanggal 12 Maret 2022 dengan menjelaskan cara menghitung penentuan tarif dengan menggunakan sistem activity-based costing dan juga kelemahan dari sistem tersebut. Selain itu, kami juga meminta kepada para peserta untuk mencoba menghitung harga pokok produksi dengan menggunakan sistem activity-based costing. Pelatihan terakhir dilakukan pada tanggal 19 Maret 2022, yaitu membimbing para peserta untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas standar, mengalokasikan beban overhead dan biaya produksi bersama ke produk, sehingga harga jual dapat lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
1. ▇▇▇▇▇, ▇., ▇▇▇ ▇▇▇▇▇, T. (2013). Advanced Management Accounting. 1st Edition. London: Pearson.
2. Mutiah, N. A, ▇▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇., dan ▇▇▇▇▇▇▇, Y. (2020). Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Dengan Penerapan Activity Based Costing (Studi Kasus pada PT. Peni Regency Tahun 2019). Jurnal Ilmiah Edunomika, 4(2), 347-357.
3. ▇▇▇▇▇, S. M., ▇▇▇ ▇▇▇▇▇, M. V. (2018). ▇▇▇▇▇▇▇▇’▇ Cost Accounting-A Managerial Emphasis. 16th Edition. London: Pearson
4. ▇▇▇▇▇▇▇, E. J., ▇▇▇▇▇, D. E., ▇▇▇▇▇, P. E., & ▇▇▇▇▇, S. (2019). Cost Management-A Strategic Emphasis. Eight Edition. New York: McGraw Hill.
5. ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇., ▇▇▇▇▇, ▇., ▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇, F. (2020). Managerial Accounting. 4th Edition. New York: McGraw Hill Education.
6. ▇▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇. ▇, ▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇▇, J. L. (2016). Management Accounting in Dynamic Environment. 1st Edition. New York: ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ & ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇.
7. ▇▇▇▇▇▇▇▇, A. A., ▇▇▇▇▇▇, R. S., ▇▇▇▇▇▇▇▇▇, E. M., dan ▇▇▇▇▇, S. M. (2013). Management Accounting: Information for Decision-Making and Strategy Execution. 6th Edition. London: Pearson.
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
Materi Yang Disampaikan Ke Mitra
MODUL
KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
ACTIVITY BASED COSTING SEBAGAI ALAT UNTUK PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK YANG KOMPETITIF DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA PT FELIXINDO RUBBER BERKARYA
Disusun oleh:
Ketua Tim
▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇, S.E., M.M., Ak., C.A., CPA., CPMA., ACPA. (0316067002 / 10195010)
Nama Mahasiswa:
▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ (125190075)
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TARUMANAGARA 2022
Pendahuluan
Masa pandemi ini merupakan masa yang sangat sulit yang dihadapi oleh hampir semua perusahaan dalam berbagai industri. Banyak perusahaan yang tidak dapat bertahan untuk tetap hidup dimasa pandemi ini. Berbagai macam cara dan strategi dilakukan oleh perusahaan agar dapat bertahan hidup seperti pemberian diskon agar pelanggan tertarik untuk membeli, memberikan kelonggaran dalam termin pembayaran, melakukan efisiensi biaya, membuat produk yang lebih terjangkau dan berbagai strategi lainnya. Salah satu strategi yang paling mudah dan banyak dilakukan oleh perusahaan adalah dengan cara menyesuaikan harga jual produk. Melakukan penyesuaian harga jual produk walaupun terlihat sangat mudah, sebenaranya tidak sesederhana yang dipikirkan dan dilihat. Untuk melakukan strategi ini, perusahaan harus memahami secara mendalam mengenai struktur biaya yang ada diperusahaan. Perusahaan harus yakin bahwa di dalam melakukan perhitungan beban pokok produksi sudah tepat dan akurat karena jika terjadi kesalahan dalam menghitung beban pokok produksi akan fatal akibatnya bagi perhitungan laba perusahaan dan juga perusahaan dapat melakukan pengambilan keputusan yang salah dan fatal terkait dengan proses penentuan harga jual produk.
Perusahaan yang masih menggunakan sistem akuntansi biaya tradisional (conventional costing system) dalam menghitung biaya produksinya, tidak mampu menyediakan informasi yang menggambarkan kegiatan perusahaan dan hanya menyajikan informasi pada tahap produksi, yang merupakan salah satu dari tiga tahap proses pembuatan produk yaitu tahap desain dan pengembangan produk, tahap produksi dan tahap distribusi (▇▇▇▇▇▇▇▇, 2012). Sistem akuntansi biaya konvensional juga tidak mampu menghasilkan informasi yang menunjang strategi bersaing, karena sistem ini dirancang untuk penilaian persediaan dan disusun pada waktu biaya tenaga kerja langsung dan biaya bahan baku merupakan faktor produksi umum, perkembangan teknologi relatif stabil, dan ragam produk yang dihasilkan terbatas. Perusahaan yang hanya memproduksi satu macam produk tidak akan menemukan permasalahan dalam menentukan biaya produksi, sebab biaya per unit produk dapat langsung ditentukan dengan membagi total biaya produksi dengan total unit yang diproduksi. Tidak demikian halnya apabila perusahaan memproduksi bermacam-macam produk. Sistem akuntansi biaya konvensional mengukur sumber daya yang dikonsumsi dalam proporsi terhadap jumlah unit dari produk individual, akan tetapi beberapa sumber daya tidak disebabkan oleh jumlah unit yang diproduksi misalnya merupakan suatu fungsi dari batch, produk, dan penopang aktivitas. Sistem akuntansi biaya konvensional mengalokasikan
overhead secara arbitrer berdasarkan satu atau dua basis alokasi yang non representative, dengan demikian gagal menyerap konsumsi overhead yang benar menurut produk individual (▇▇▇▇▇▇▇, 2019). Tidak demikian halnya apabila perusahaan memproduksi bermacam-macam produk, dengan semakin bervarasinya produk yang dihasilkan, sistem akuntansi biaya konvensional tidak dapat menghasilkan perhitungan biaya per unit produk yang lebih akurat. Sistem akuntansi biaya konvensional mengalokasikan biaya overhead pabrik dengan dasar pembebanan jumlah unit atau volume produksi misalnya jam kerja langsung, jam mesin, atau unit produksi. Pengunaan cost driver yang hanya berdasarkan volume untuk pembebanan biaya overhead pabrik dapat menimbulkan distorsi biaya produk. Untuk perusahaan yang menghasilkan produk yang homogen, penggunaan cost driver berdasarkan volume saja dapat diterima. Berbeda apabila perusahaan menghasilkan produk yang bervariasi yang mengkonsumsi aktivitas overhead yang berbeda-beda misalnya ukuran produk, volume produk, kerumitan produk, dan diversitas bahan. Keterbatasan yang ada dalam sistem akuntansi biaya konvensional, menuntut pihak manajemen sangat membutuhkan sistem akuntansi biaya yang mampu menghasilkan informasi yang lebih akurat, maka dikembangkanlah suatu pendekatan baru untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut yaitu Activity Based Costing System (ABC System). ABC System memfokuskan aktivitas terhadap pengalokasian biaya overhead pabrik, yang dirancang atas dasar pemikiran bahwa dalam membuat produk yang diperlukan aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya. Pengalokasian biaya overhead pabrik dilakukan atas dasar aktivitas-aktivitas yang dilakukan sehubungan dengan perubahan produk sehingga mampu melaporkan biaya produksi yang lebih akurat, sebagai informasi bagi manajemen dalam mengambil keputusan (Groot, 2013). Biaya ini bukan hanya terjadi, dikumpulkan, dialokasikan, dan kemudian dibebankan pada produk, melainkan ditelusuri untuk memungkinkan manajemen mengelola berbagai kegiatan yang mengkonsumsi biaya overhead pabrik. Dengan demikian diharapkan manajemen dapat melakukan perhitungan biaya pokok produksi yang lebih akurat dimana hal ini akan membuat manajemen dapat menentukan harga jual yang lebih akurat dan kompetitif terutama dimasa pasca pandemi COVID-19 ini.
Jenis-Jenis Biaya
Biaya yang ada dalam pabrik suatu perusahaan dapat kita kelompokkan menjadi 2 kelompok besar yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung (Datar, 2018). Biaya langsung adalah biaya yang dapat secara langsung dan kasat mata ditelusuri kepada satu produk tertentu
(▇▇▇▇▇▇▇, 2019). Contoh biaya langsung ini antara lain adalah: biaya bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu dan juga biaya tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut. Sedangkan biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi tetapi tidak dapat ditelusuri secara langsung ke produk yang dihasilkan (▇▇▇▇▇▇▇, 2019). Seringkali biaya-biaya ini disebut dengan istilah biaya overhead. Dalam suatu pabrik, manajemen perusahaan dapat dengan mudah merencanakan dan mengendalikan biaya langsung ini karena biaya ini mudah ditelusuri dan dikendalikan. Berbeda halnya dengan biaya yang bersifat tidak langsung. Biaya ini seringkali menjadi kendala bagi perusahaan untuk mengendalikan biaya pabrikase dengan baik dan ujungnya perusahaan dapat mengambil keputusan yang salah terkait perhitungan biaya ini dikarenakan salah dalam mengalokasikan biaya overhead ini.
Elemen Harga Pokok Produksi
Dalam perhitungan harga pokok produksi ada beberapa elemen-elemen yang tercakup di dalamnya, menurut Datar (2018: 67) elemen-elemen harga pokok produksi meliputi tiga unsur yaitu:
1. Biaya Bahan Baku (BBB) Bahan dapat digolongkan ke dalam bahan baku (direct material) dan bahan pembantu (indirect material). Bahan baku adalah bahan yang diolah menjadi produk selesai, dan pemakainnya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejak atau manfaatnya pada produk selesai tertentu. Biaya bahan baku adalah harga perolehan bahan baku yang dipakai dalam pegelolaan produk.
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL) Biaya tenaga kerja adalah semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan. Biaya tenaga kerja langsung, yaitu balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik yang manfaatnya dapat didentifikasikan atau diikuti jejaknya pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan. Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsusng sering disebut dengan istilah Prime Cost (Datar, 2018).
3. Biaya Overhead Pabrik (BOP) Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, yang elemennya dapat digolongkan ke dalam biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan dan amortisasi aktiva tetap pabrik, reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik, biaya listrik dan air, biaya asuransi pabrik, biaya overhead lain-lain. Elemen biaya overhead pabrik didalam biaya produksi tidak dapat dipisahkan dan diabaikan, karena biaya overhead pabrik nantinya akan mempengaruhi secara langsung dalam penetapan harga pokok produksi,
yang kemudian juga dapat mempengaruhi tingkat laba yang diperoleh perusahaan. Biaya tenaga kerja langsusng dan Biaya Overhead Pabrik sering disebut dengan istilah Conversion Cost (Datar, 2018).
Penentuan Harga Pokok Produksi Dengan Metode Konvensional
Metode biaya konvensional adalah metode yang melibatkan dua tahap dimana tahap pertama biaya dilacak ke suatu unit organisasi misalnya ke departemen-departemen dalam pabrik, dan tahap kedua meliputi pelacakan biaya ke berbagai produk yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan unit. metode biaya konvensional memiliki dua fungsi sederhana, yaitu fungsi pengukuran kinerja bulanan melalui sistem pelaporan bulanan dalam bentuk perbandingan antara realisasi versus anggaran biaya produksi, dan fungsi pembebanan biaya dimana biaya yang dibebankan langsung ke produk adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, sedangkan biaya overhead pabrik dibebankan ke produk dengan menggunakan tarif beban agregatif dan kuantitatif pengganti, misalnya berdasarkan bahan baku, berdasarkan jam mesin atau jam kerja langsung. Menurut pendapat ▇▇▇▇▇▇ & Mowen (2019: 57) metode biaya konvensional mengasumsikan bahwa semua biaya diklasifikasikan sebagai tetap atau variabel berkaitan dengan perubahan unit atau volume produk yang diproduksi. Maka unit produk atau pendorong lainnya sangat berhubungan dengan unit yang diproduksi, seperti jam tenaga kerja langsung atau jam mesin, adalah satu-satunya pendorong yang dianggap penting.
Penentuan tarif biaya overhead pabrik metode konvensional dapat dilaksanakan melalui tahap-tahap berikut ini:
1. Pada tahap pertama dilakukan penentuan tarip biaya overhead pabrik yang diawali dengan mengumpulkan total biaya overhead pabrik secara menyeluruh, yang kemudian akan dibebankan kepada produk dengan menggunakan dasar pembebanan dan tingkatan kapasitas yang paling tepat. Tarip biaya overhead pabrik secara menyeluruh dihitung dengan menggunakan satu penggerak tingkat unit. Agar tarip biaya overhead pabrik dapat dipakai sebagai dasar pembebanan biaya yang adil dan teliti, maka dalam menentukan tarif yang akan dipakai untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada produk harus dipertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut: 1) Pemilihan Dasar alokasi yang Dipakai untuk Membebankan; 2) Penentuan Tingkat Kapasitas yang Digunakan
2. Pada tahap kedua biaya overhead pabrik dibebankan ke produk sebesar kapasitas pembebanan yang diserap oleh produk dikalikan dengan tarip biaya overhead pabrik yang telah ditentukan, secara matematis dapat dinyatakan dalam rumus:
BOP dibebankan = Kapasitas sesungguhnya X tarip BOP (total)
Kelemahan Metode Konvensional
Kelemahan dari metode biaya konvensional adalah bisa menimbulkan distorsi biaya jika digunakan dalam lingkungan pemanufakturan maju dan persaingan level global. Adapun dampak-dampak dari biaya konvensional jika diterapkan dalam lingkungan pemanufakturan maju adalah:
1. Karena terjadinya distorsi biaya maka penawaran sulit dijelaskan.
2. Karena produk bervolume banyak dibebani biaya per unit terlalu besar maka harga jual yang ditawarkan pada konsumen terlalu besar pula dibandingkan dengan para pesaing perusahaan.
3. Harga yang diminta konsumen untuk produk yang bervolume banyak mungkin sudah menguntungkan, namun ditolak oleh perusahaan karena biaya per unitnya terdistorsi menjadi tinggi.
4. Produk bervolume sedikit kelihatannya laba, namun sebenarnya mungkin rugi karena biaya per unitnya dibebani terlalu kecil.
5. Karena produk bervolume sedikit dibebani biaya per unit terlalu kecil maka harga jual yang ditawarkan pada konsumen terlalu kecil pula dibandingkan dengan para pesaing perusahaan sehingga produk ini laku keras.
6. Departemen akuntansi dan manajemen puncak tidak banyak memperhatikan penyempurnaan sistem akuntansi biaya yang digunakan, perusahaan dan para penggguna informasi biaya merasa informasi yang diperolehnya tidak bermanfaat dan bahkan menyesatkan.
Metode Activity Based Costing (ABC)
Teknik perhitungan biaya tradisional akan memicu adanya distorsi pada proses perhitungan biaya yang menyebabkan kesalahan alokasi pada ketiga jenis biaya (biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead). Hal ini tidak bermasalah bagi biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja yang relatif dapat diamati (observable). Namun, berbeda dengan biaya overhead yang kurang dapat diamati (unobservable) dan
proporsinya signifikan. Semua distorsi dan ketidakefisienan yang ditimbulkan dari teknik perhitungan biaya tradisional dapat diatasi dengan adanya activity-based costing (ABC) yang merupakan teknik perhitungan biaya kontemporer yang dikembangkan oleh ▇▇▇▇▇▇ dan ▇▇▇▇▇▇ (Kaplan, 2012).
ABC merupakan sistem perhitungan biaya yang berfokus pada aktivitas yang terbentuk untuk memproduksi suatu produk pada proses pemanufakturan. Biaya ditelusuri dari aktivitas ke produk berdasarkan setiap aktivitas yang dikonsumsi produk. ABC menyatakan bahwa produk atau jasa tidak secara langsung menggunakan sumber daya, melainkan aktivitas. Pembeda antara ABC dan sistem perhitungan biaya tradisional adalah pemicu biaya (cost drivers) yang digunakan untuk melacak biaya.
Perbedaan dasar ABC system dengan metode konvensional terlihat pada penentuan biaya overheadnya. Pada metode konvensional diasumsikan bahwa overhead hanya disebabkan oleh cost driver unit sehingga biaya berlevel unit digolongkan sebagai biaya variabel yaitu biaya yang jumlah totalnya bervariasi secara proporsional dengan perubahan jumlah produk. Aktivitas berlevel batch, berlevel produk dan berlevel fasilitas digolongkan kedalam biaya tetap yaitu biaya yang jumlah totalnya tidak berubah meskipun terjadi perubahan jumlah produk. Sistem biaya berdasarkan unit nantinya akan digunakan untuk mengalokasikan biaya overhead tetap kepada berbagi produk secara individual dan kemudian untuk menghitung biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk, yang akhirnya alokasi biaya overhead pabrik tetap tersebut ditambahkan dengan biaya overhead variabel.
ABC system memandang biaya overhead variabel dapat dilacak dengan tepat pada berbagai produk secara individual. Sistem konvensional yang hanya menggunakan cost driver berdasar unit sifatnya gambang dan mungkin tidak menggambarkan aktivitas yang sesungguhnya yang dikonsumsi oleh produk. ABC system memperbaiki akurasi perhitungan harga pokok produk dengan mengakui bahwa banyak biaya overhead tetap yang bervariasi dalam proporsi untuk berubah selain berdasarkan volume produk atau unit yang dihasilkan perusahaan. Hal tersebut menimbulkan dua kategori baru dari cost driver yaitu berdasarkan unit dan non unit. Dimana cost driver berdasarkan non unit dapat berupa berlevel batch, berlevel produk, dan berlevel fasilitas, yang mana dengan adanya pemahaman terhadap penyebab biaya maka biaya-biaya tersebut dapat dilacak atau ditelusuri pada berbagai produk secara individual (▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇, 2020).
Secara sederhana, sistem ABC memiliki tingkat presisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknik perhitungan biaya tradisional. Hal ini disebabkan sistem biaya tradisional
mengalokasikan biaya overhead melalui jam kerja yang ada sehingga biaya akhir yang dibebankan kurang tepat. ABC melihat kekurangan ini sehingga pembebanan biaya dilakukan dalam dua tahap yang berbeda dan menggunakan driver level unit, level batch dan level produk agar memperoleh akurasi yang lebih baik guna pembuatan keputusan manajerial. Level driver ini juga dikenal sebagai hirearki biaya yang pada teorinya kebanyakan terdiri dari empat level yang berbeda yaitu (▇▇▇▇▇▇▇, 2019):
1. Aktivitas Tingkat Unit (unit-level activity) dilakukan pada setiap satu unit produk atau jasa perusahaan. Contoh aktivitas tingkat unit adalah pemakaian bahan baku langsung, pemakaian jam tenaga kerja langsung, serta pemasukan komponen dan inspeksi setiap unit. Aktivitas tingkat unit adalah berdasarkan volume. Aktivitas yang dibutuhkan bervariasi secara proporsional dengan jumlah objek biaya. Penggerak konsumsi sumber daya dan penggerak konsumsi aktivitas cenderung sama untuk aktivitas tingkat unit.
2. Aktivitas Tingkat Batch (batch-level activity) dilakukan untuk setiap batch, batch produk, atau jasa. Perusahaan melakukan aktivitas tingkat batch untuk setiap batch produk atau jasa yang dijadwalkan untuk proses bersama, bukan untuk setiap unit individu dari objek biaya. Satu batch memiliki lebih dari satu unit produk atau jasa atau lebih dari itu. Contoh aktivitas tingkat batch adalah persiapan, penyetelan, atau persiapan mesin, pemesanan pembelian, penjadwalan produksi, inspeksi per batch, penanganan bahan baku, dan percepatan proses produksi.
3. Aktivitas Pendukung Produk (product-sustaining activity) mendukung produksi produk atau jasa tertentu. Contoh aktivitas pendukung produk adalah desain produk, administrasi suku cadang bagi produk, dan keterlibatan dalam perubahan rekayasa untuk memodifikasi produk.
4. Aktivitas Pendukung Fasilitas (facility-sustaining activity) mendukung operasi secara umum. Aktivitas ini tidak disebabkan oleh produk atau kebutuhan pelayanan pelanggan dan tidak dapat ditelusuri ke satu unit, batch, atau produk. Contoh aktivitas ini termasuk penyediaan keamanan dan keselamatan kerja, pemeliharaan mesin dengan fungsi umum, pengelolaan pabrik, pembayaran pajak bangunan dan asuransi pabrik, serta penutupbukuan setiap bulan. Beberapa perusahaan menyebut aktivitas ini sebagai aktivitas pendukung bisnis atau infrastruktur.
Langkah Penentuan Tarif Dengan Metode ABC
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghitung biaya atas dasar aktivitas dalam menentukan harga pokok ada dua tahap, yaitu (McWater, 2016):
1. Tahap pertama
a. Penggolongan berbagai aktivitas. Langkah pertama dalam prosedur tahap pertama ABC System adalah penggolongan berbagai aktivitas. Aktivitas adalah pekerjaan yang dilaksanakan dalam organisasi. Berbagai aktivitas diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok aktivitas yang mempunyai hubungan fisik yang jelas dan mudah ditentukan.
b. Pengasosiasian biaya dengan aktivitas. Setelah menggolongkan berbagai aktivitas, maka langkah ke dua adalah menghubungkan berbagai biaya dengan setiap kelompok aktivitas berdasar pelacakan langsung dan driver-driver sumber.
c. Penentuan kelompok -kelompok biaya homogen. Setelah menghubungkan biaya dengan aktivitas maka dilanjutkan langkah ketiga yaitu penentuan kelompok- kelompok biaya yang homogen. Kelompok biaya homogen (homogeneous cost pool) adalah sekumpulan biaya overhead yang terhubungkan secara logis dengan tugas-tugas yang dilaksanakan dan berbagai macam biaya tersebut dapat diterangkan oleh cost driver tunggal. Jadi agar dapat dimasukkan kedalam suatu kelompok biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead harus dihubungkan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi yang sama menunjukan eksistensi dari sebuah cost driver. Cost driver, tentunya harus dapat diukur sehingga overhead dapat dibebankan ke berbagai produk.
d. Penentuan tarif kelompok. Jika kelompok-kelompok biaya yang homogen telah ditentukan, maka langkah keempat adalah penemuan tarif kelompok. Tarif kelompok (pool rate) adalah tarif biaya overhead per unit cost driver yang dihitung untuk suatu kelompok aktivitas. Tarif kelompok dihitung dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukur aktivitas kelompok tersebut. Perhitungan tarif kelompok ini merupakan langkah terakhir tahap pertama.
2. Tahap Kedua Pembebanan biaya ke produk dengan memakai tarif pool dengan mengalikan tarif kelompok dengan unit-unit cost driver yang digunakan. Dari tahap kedua, biaya-biaya aktivitas dibebankan keproduk berdasarkan konsumsi atau permintaan aktivitas masing- masing produk. Jadi dalam tahap ini, biaya pool dan ukuran besarnya sumber daya yang dikonsumsikan oleh setiap produk. Tarif kelompok ini merupakan penyederhanaan kuantitas cost driver yang digunakan oleh tiap produk. Dengan demikian overhead yang dibebankan dari setiap kelompok biaya ke setiap produk dihitung dengan rumus:
BOP dibebankan = Tarif kelompok x unit cost driver yang digunakan
Kelemahan dari ABC
Kelemahan dari system ABC Costing adalah sebagai berikut:
1. Implementasi sistem ini belum terlalu dikenal stake holders perusahaan di Indonesia sehingga penolakan untuk pemakaian sistem ini cukup besar.
2. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan cukup sulit dan terlalu banyak metode pengumpulan biaya untuk menggunakan sistem Activity Based Costing.
3. Masalah joint cost pada sistem konvensional juga tidak dapat diatasi dengan sistem siklus akuntansi biaya ini.
4. Sistem ini melaporkan biaya dengan membebankan pada suatu periode penuh dan tidak mempertimbangkan amortisasi long term payback expense. Contohnya, biaya pengembangan dan penelitian yang cukup besar membuat biaya produk yang terlalu besar.
5. ABC (Activity Based Costing systems) membuat para manajer harus melakukan perubahan radikal dalam cara berpikir tentang biaya.
6. Untuk memahami Activity Based Costing dengan mudah harus memperlakukan semua biaya sebagai biaya variabel karena sistem ini didesain sebagai alat pembuat keputusan strategis dalam jangka panjang.
7. ABC (Activity Based Costing systems) tidak bisa menampilkan biaya yang dihindari dengan menghentikan suatu produk.
8. ABC (Activity Based Costing systems) menunjukkan konsumsi sumber daya dalam jangka panjang dari setiap produk, tetapi tidak bisa memprediksi jumlah pengeluaran yang akan dipengaruhi oleh keputusan tertentu.
LAMPIRAN 2
Foto-Foto Kegiatan
LAMPIRAN 3
Luaran Wajib
Hasil PKM
ACTIVITY BASED COSTING SEBAGAI ALAT UNTUK PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK YANG KOMPETITIF DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA PT FELIXINDO RUBBER BERKARYA
▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ 1 dan Jocevine ▇▇▇▇▇▇ 2
1Jurusan Akuntansi, Universitas Tarumanagara Jakarta Email: ▇▇▇▇▇▇▇▇@▇▇.▇▇▇▇▇.▇▇.▇▇
2 Jurusan Akuntansi, Universitas Tarumanagara Jakarta Email: ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇@▇▇▇▇▇.▇▇▇
ABSTRAK
Permasalahan yang dihadapi oleh mitra yaitu PT Felixindo Rubber Berkarya adalah harga jual produk perusahaan kurang dapat bersaing, hasil perhitungan beban overhead perusahaan yang dibebankan ke produk menjadi tidak akurat dan bias, tidak adanya standar urutan proses pembuatan suatu produk, dan perhitungan beban pokok produksi perusahaan menjadi tidak akurat. ▇▇▇ ▇▇▇▇abdian Kepada Masyarakat (PKM) yaitu dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara menawarkan solusi agar perusahaan menerapkan sistem perhitungan biaya berbasis aktivitas. Target yang hendak dicapai dari pelatihan ini adalah agar perusahaan dapat menerapkan activity-based costing sebagai alat untuk penetapan harga jual produk yang kompetitif. Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah pertama-tama tim PKM melakukan survei terlebih dahulu dan berdasarkan survei tersebut PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya meminta agar ada solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan. Langkah awal, tim PKM akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai teori atau konsep yang terkait dengan konsep activity-based costing yang akan dilakukan pada tanggal 5 dan 12 Maret 2022. Tahap selanjutnya, tim PKM akan membimbing bagaimana mengimplementasikan sistem perhitungan biaya berbasis aktivitas pada tanggal 19 Maret 2022. Kami mengharapkan dengan adanya pelatihan ini, maka PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya dapat memahami manfaat dari penerapan activity-based costing sebagai alat untuk penetapan harga jual produk yang kompetitif.
Kata Kunci: PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya, Activity Based Costing, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇
ABSTRACT
The problems faced by partners, namely PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya, are that the selling price of the company's products is less competitive, the results of calculating the company's overhead costs charged to products are inaccurate and biased, there is no standard order of the manufacturing process for a product, and the calculation of the company's cost of production becomes not accurate. The Community Service Team (PKM), namely lecturers and students of the Faculty of Economics and Business, Tarumanagara University offers a solution for companies to implement an activity-based costing system. The target to be achieved from this training is for companies to implement activity-based costing as a tool for determining competitive product selling prices. The implementation method used was that the PKM team first conducted a survey and based on the survey, PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya requested that there be solutions to the problems faced by the
company. The initial step, the PKM team will explain in advance the theory or concept related to the concept of activity-based costing which will be carried out on March 5 and 12, 2022. The next stage, the PKM team will guide how to implement an activity-based costing system on March 19 2022. We hope that with this training, PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya can understand the benefits of implementing activity-based costing as a tool for determining competitive product selling prices.
Keywords: PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya, Activity Based Costing, Selling Price
1. PENDAHULUAN
Masa pandemi ini merupakan masa yang sangat sulit yang dihadapi oleh hampir semua perusahaan dalam berbagai industri. Banyak perusahaan yang tidak dapat bertahan untuk tetap hidup di masa pandemi ini. Berbagai macam cara dan strategi dilakukan oleh perusahaan agar dapat bertahan hidup seperti pemberian diskon agar pelanggan tertarik untuk membeli, memberikan kelonggaran dalam termin pembayaran, melakukan efisiensi biaya, membuat produk yang lebih terjangkau dan berbagai strategi lainnya. Salah satu strategi yang paling mudah dan banyak dilakukan oleh perusahaan adalah dengan cara menyesuaikan harga jual produk. Melakukan penyesuaian harga jual produk walaupun terlihat sangat mudah, sebenarnya tidak sesederhana yang dipikirkan dan dilihat. Untuk melakukan strategi ini, perusahaan harus memahami secara mendalam mengenai struktur biaya yang ada di perusahaan. Menurut Datar (2018) elemen-elemen harga pokok produksi meliputi tiga unsur yaitu: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Bahan baku adalah bahan yang diolah menjadi produk selesai, dan pemakaiannya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejak atau manfaatnya pada produk selesai tertentu. Biaya tenaga kerja adalah semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan. Biaya tenaga kerja langsung, yaitu balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik yang manfaatnya dapat didentifikasikan atau diikuti jejaknya pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan. Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, yang elemennya dapat digolongkan ke dalam biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan dan amortisasi aktiva tetap pabrik, reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik, biaya listrik dan air, biaya asuransi pabrik, biaya overhead lain-lain. Elemen biaya overhead pabrik didalam biaya produksi tidak dapat dipisahkan dan diabaikan, karena biaya overhead pabrik nantinya akan mempengaruhi secara langsung dalam penetapan harga pokok produksi, yang kemudian juga dapat mempengaruhi tingkat laba yang diperoleh perusahaan.
Perusahaan harus yakin bahwa di dalam melakukan perhitungan beban pokok produksi sudah tepat dan akurat karena jika terjadi kesalahan dalam menghitung beban pokok produksi akan fatal akibatnya bagi perhitungan laba perusahaan dan juga perusahaan dapat melakukan pengambilan keputusan yang salah dan fatal terkait dengan proses penentuan harga jual produk. Masalah ini juga dialami oleh mitra kami yaitu PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya dalam menentukan strategi harga jual produknya di masa pandemi ini dimana situasi pasar yang sedang lesu.
PT Felexindo Rubber Berkarya ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi berbagai macam produk karet untuk keperluan industri seperti produk karet O Ring, karet untuk peralatan olahraga, karet untuk industri furniture, karet vakum, karet otomotif, karet butly sealing tape, karet untuk sol sepatu pada industri sepatu, karet penahan getaran untuk industri mesin, selang silicon, dan lainnya. Pabrik karet PT Felixindo ini mengolah, mendesain, mengembangkan, memproduksi berbagai macam produk cetakan dan juga komponen karet untuk industri karet dan industri lainnya. Produk perusahaan dapat
disesuaikan dengan kebutuhan berbagai macam kebutuhan karet industri, mesin industri, ataupun aplikasi karet di bidang lainnya sesuai dengan permintaan pelanggan.
Cikal bakal dari PT Felixindo ini berawal dari sebuah toko yang menjual produk karet yang berlokasi di pasar HWI Lindeteves Glodok pada tahun 1990an. ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ membuka toko kecil untuk menjual produk karet untuk keperluan industri dengan tujuan agar dapat mandiri terpisah dari bisnis orangtuanya yang juga berkecimpung di bidang ini. Industri ini memang sudah ditekuni oleh keluarga ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ sejak berpuluh tahun yang lalu. Toko di HWI Lindeteves ini mempunyai banyak pelanggan dari berbagai kota di Indonesia. Hal ini dikarenakan toko ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ ini yang bernama toko Aneka Karetindo mempunyai stok berbagai macam produk karet bahkan untuk produk yang cukup langka sekalipun sehingga banyak pelanggan yang rutin membeli dari toko ini. Berikut disajikan foto dari produk perusahaan:
Gambar 1. Contoh produk perusahaan
Seiring dengan berkembangnya toko Aneka Karetindo ini dan juga pelanggannya sudah mulai banyak yang merupakan perusahaan menengah dan besar, maka ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ merasa usaha dagangnya yang hanya berupa toko sudah tidak memadai untuk melayani pelanggannya yang sudah banyak ini dan juga banyak yang merupakan perusahaan besar. Untuk itu pada tahun 2000 didirikanlah PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya ini yang merupakan perusahaan manufaktur produk karet untuk keperluan industri. Sekarang perusahaan memproduksi sendiri semua produk karet yang dijualnya sehingga harga jual produk perusahaanpun menjadi semakin bersaing dan kompetitif. PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya ini didirikan di atas lahan yang tidak terlalu luas di daerah kawasan industri Kapuk Raya. Dikarenakan jaringan bisnis dan mutu produk yang bagus, maka perusahaan terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Karyawan yang mulanya hanya beberapa orang saja mulai meningkat menjadi puluhan orang dan hal ini membuat luasnya perusahaan menjadi tidak memadai lagi untuk mengikuti kemajuan perusahaan. Selain itu juga kawasan Kapuk ini semakin hari semakin macet dan tidak teratur ditambah lagi dengan selalu mengalami banjir jika musim hujan tiba. Oleh karena itu mulailah dicari lokasi baru yang dianggap layak dan strategis untuk lokasi pabrik dan pindah. Pilihan jatuh di daerah Bekasi karena daerah Bekasi ini merupakan daerah yang sedang berkembang dengan cukup pesat dan juga ternyata di daerah ini banyak tersedia sumber daya tenaga kerja yang cukup banyak sehingga dirasakan akan sangat membantu jalannya perusahaan. Luas lahan yang digunakan untuk operasional pabrik di Bekasi ini kurang lebih sekitar 1 hektar. Dengan luas seperti ini perusahaan
melakukan ekspansi pembelian mesin produksi yang cukup agresif untuk memenuhi permintaan pelanggan yang terus meningkat.
Persaingan dalam industri produk karet ini juga semakin lama semakin meningkat dimana banyak mulai berdiri perusahaan industri karet baru yang menawarkan harga yang cukup bersaing kepada pelanggan perusahaan. Hal ini membuat perusahaan harus lebih kompetitif dan efisien sehingga dapat memberikan harga yang bersaing dengan para pesaingnya. Dalam penentuan harga jual perusahaan pastilah berpedoman dari beban pokok produksi yang dihasilkan oleh bagian akuntansi perusahaan. Oleh sebab itu perhitungan beban pokok produksi yang tepat dan akurat sangatlah diperlukan perusahaan agar dapat bersaing dan memberikan harga yang kompetitif untuk pelanggannya.
Pada beberapa tahun belakangan ini seiring dengan semakin banyaknya persaingan dan banyak juga yang sudah mulai mengarah ke persaingan yang kurang sehat, kinerja perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini diperparah lagi dengan adanya pandemi COVID-19 sejak tahun 2020. Pandemi ini membuat perusahaan semakin merasa kesulitan di dalam bersaing dengan para pesaingnya terutama bersaing di faktor harga. Banyak pesaing terutama perusahaan yang memiliki modal yang kuat yang menjalankan strategi predatory pricing sehingga hal ini akan membahayakan kelangsungan hidup perusahaan lainnya.
Masalah ini merupakan masalah yang sangat serius yang pasti menjadi perhatian utama dari perusahaan. Saat ini kinerja keuangan perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan dimana omset penjualan perusahaan turun hampir 15% (lima belas persen) dan laba perusahaan yang biasa diukur dengan rasio Earnings Before Interest & Tax (EBIT) juga mengalami penurunan sekitar 11% (sebelas persen). Beberapa alternatif cara yang sudah mulai dipertimbangkan perusahaan untuk dijalankan guna mengatasi hal ini adalah:
1. Melakukan review terhadap perhitungan beban pokok produksi perusahaan untuk mengevaluasi apakah ada biaya yang dapat dikeluarkan atau dihindari dari unsur beban pokok produksi perusahaan saat ini. Hal ini memerlukan usaha yang cukup besar untuk mereview kembali metode perhitungan beban pokok produksi dan juga menganalisa secara detail semua unsur yang ada di dalam beban pokok produksi saat ini. Dengan kegiatan ini perusahaan berharap dapat lebih kompetitif di dalam penerapan pricing untuk produknya.
2. Melakukan program efisiensi biaya operasional yang ada di perusahaan. Program ini direncanakan untuk mengurangi biaya-biaya operasional yang dirasakan kurang bermanfaat dan tidak mendesak untuk dikeluarkan, seperti biaya promosi, biaya makan dan jamuan.
3. Melakukan restrukturisasi organisasi dengan cara melakukan seleksi kembali karyawan yang ada di perusahaan dan secara bertahap perusahaan akan melakukan perampingan organisasi. Hal ini akan berdampak pengurangan personil yang ada.
4. Merekayasa proses produksi untuk mencari metode produksi yang lebih efisien dan murah sehingga diharapkan terjadi penurunan biaya yang ada di perusahaan yang pada ujungnya nanti akan membuat laba perusahaan meningkat.
Mitra sangat mengharapkan bantuan tim untuk dapat memberikan alternatif solusi dan masukan apakah rencana-rencana di atas tersebut dapat diterapkan untuk perusahaan dan risiko-risiko apa yang dapat timbul dari implementasi rencana di atas tersebut. Tim tertarik untuk memfokuskan pada point nomor 1 yaitu melakukan review terhadap metode perhitungan beban pokok produksi yang saat ini dilakukan dan juga tim akan mencoba untuk mengusulkan untuk menerapkan sistem perhitungan beban pokok produksi berdasarkan aktivitas (activity-based costing) yang menurut penilaian tim cukup tepat diterapkan oleh
perusahaan agar perusahaan dapat bersaing. Activity-based costing menurut ▇▇▇▇▇ dan Groot (2013) adalah suatu sistem perhitungan beban pokok produksi yang berbasis aktivitas yang timbul dari kegiatan memproduksi produk. ABC merupakan sistem perhitungan biaya yang berfokus pada aktivitas yang terbentuk untuk memproduksi suatu produk pada proses pemanufakturan. Biaya ditelusuri dari aktivitas ke produk berdasarkan setiap aktivitas yang dikonsumsi produk. ABC menyatakan bahwa produk atau jasa tidak secara langsung menggunakan sumber daya, melainkan aktivitas. Menurut ▇▇▇▇▇▇ et al. (2020) sistem perhitungan beban pokok produksi yang berbasis aktivitas menggunakan jenis pemicu biaya yang lebih banyak sehingga sumber daya yang digunakan oleh produk dapat diukur lebih akurat.
Beberapa hal yang menjadi fokus perhatian yang menurut tim merupakan masalah pokok yang dihadapi perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Metode perhitungan beban produksi yang dilakukan oleh pihak mitra saat ini tidak tepat dan bias karena banyak unsur biaya yang tidak seharusnya masuk ke dalam beban pokok produksi tetapi dimasukkan ke dalam perhitungan beban pokok produksi sehingga nilai beban pokok produksi mitra menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya. Hal ini akan mengakibatkan harga jual produk perusahaan menjadi lebih tinggi dan kurang dapat bersaing dengan pesaing.
2. Menurut ▇▇▇▇▇▇▇ et al. (2019) pada sistem perhitungan biaya tradisional (traditional costing system), pembebanan beban overhead hanya menggunakan satu dasar alokasi saja. Kelemahan dari metode biaya konvensional adalah bisa menimbulkan distorsi biaya jika digunakan dalam lingkungan pemanufakturan maju dan persaingan level global. Perusahaan masih mengunakan sistem perhitungan beban pokok produksi secara tradisional, padahal variasi dan aktivitas yang diperlukan untuk menghasilkan produk perusahaan yang beraneka ragam itu berbeda-beda. Hal ini akan mengakibatkan hasil perhitungan beban overhead perusahaan yang dibebankan ke produk menjadi tidak akurat dan bias.
3. Menurut ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇ et al. (2020) aktivitas standar yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk harus bisa diidentifikasi sehingga terdapat standar urutan proses pembuatan produk yang nantinya akan memudahkan perhitungan beban produksi. Mitra selama ini tidak pernah mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas standar yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk sehingga mitra tidak mempunyai informasi yang akurat mengenai proses dan urutan kegiatan baku yang diperlukan untuk membuat suatu produk. Hal ini akan mengakibatkan tidak adanya standar urutan proses pembuatan suatu produk sehingga akan sulit untuk menghitung beban produksi jika akan menggunakan sistem perhitungan beban produksi berbasis aktivitas.
4. Belum adanya standar metode dan perhitungan alokasi beban overhead dan juga alokasi biaya produksi bersama (joint cost). Hal ini akan mengakibatkan perhitungan beban pokok produksi perusahaan menjadi tidak akurat.
Dari hasil identifikasi masalah awal di atas, tim menyampaikan akibat yang dapat terjadi dari masalah-masalah tersebut. Pihak mitra menyadari akan bahayanya masalah ini jika tidak sesegera mungkin diselesaikan. Pihak mitra sangat mengharapkan tim dapat membantu perusahaan untuk menyelesaikan masalah yang telah teridentifikasi.
2. METODE PELAKSANAAN PKM
Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh mitra, maka tim PKM dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara menawarkan solusi yaitu menerapkan sistem activity-based costing sebagai alat untuk penetapan harga jual produk yang kompetitif di
masa pandemi covid-19 pada PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya. Tahapan metode yang digunakan adalah:
a. Pertama-tama akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai teori atau konsep yang terkait dengan konsep activity-based costing.
b. Selanjutnya tim PKM akan membimbing bagaimana mengimplementasikan sistem pembebanan beban produksi berdasarkan activity-based costing.
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik jika mitra turut berpartisipasi. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, mitra akan menyediakan tempat pelatihan dan memberikan jadwal pelatihan untuk disesuaikan dengan jadwal tim PKM. Selain itu, ▇▇▇▇▇ juga diminta untuk menentukan jumlah personil yang akan diberikan pelatihan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diadakan dengan jadwal kelas akuntansi pada hari Sabtu agar tidak mengganggu kegiatan operasi perusahaan, yaitu pada tanggal: tanggal 5, 12, dan 19 Maret 2022. Kegiatan pelatihan ini diadakan melalui Zoom.
Saat pelatihan pertama, yaitu pada tanggal 5 Maret 2022, kami menjelaskan terlebih dahulu mengenai jenis-jenis biaya, elemen dari harga pokok produksi, menentukan harga pokok produksi dengan metode konvensional dan kelemahannya, sehingga lebih baik menggunakan sistem activity-based costing. Sistem ABC memiliki tingkat presisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknik perhitungan biaya tradisional.
Pada pertemuan selanjutnya, yaitu tanggal 12 Maret 2022 kami menjelaskan cara penentuan tarif dengan menggunakan sistem activity-based costing dan juga kelemahan dari sistem tersebut. Kami juga meminta kepada para peserta untuk mencoba menghitung harga pokok produksi, yang selama ini menggunakan sistem tradisional, dengan menggunakan sistem activity-based costing, dikarenakan mereka telah mendapatkan teorinya dan sekarang adalah saat yang tepat untuk menerapkan sistem yang baru dipelajari agar mereka dapat menghitung harga pokok produksi dengan tepat.
Pertemuan terakhir yaitu pada tanggal 19 Maret 2022, kami masih membimbing para peserta agar mereka dapat mengidentifikasi aktivitas-aktivitas standar, dapat mengalokasikan beban overhead dan biaya produksi bersama ke produk. Dengan demikian, perhitungan harga pokok produksi akan menjadi lebih akurat dan pada akhirnya penentuan harga jual produk juga dapat lebih akurat.
Berikut adalah foto-foto selama pelatihan:
Gambar 2. Foto saat Kegiatan PKM berlangsung
Gambar 3. Foto saat Kegiatan PKM berlangsung
4. KESIMPULAN
Sebelum kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan, terlebih dahulu tim kami melakukan survey ke Mitra, yaitu PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya pada tanggal 22 Januari 2022. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat berupa pelatihan activity-based costing sebagai alat untuk menentukan harga jual produk yang kompetitif. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 3 kali, melalui zoom. Pelatihan pertama diadakan pada tanggal 5 Maret 2022 dengan menjelaskan teori perhitungan biaya produksi dengan metode konvensional dan kelemahannya. Pelatihan kedua diadakan pada tanggal 12 Maret 2022 dengan menjelaskan cara menghitung penentuan tarif dengan menggunakan sistem activity-based costing dan juga kelemahan dari sistem tersebut. Selain itu, kami juga meminta kepada para peserta untuk mencoba menghitung harga pokok produksi dengan menggunakan sistem activity-based costing. Pelatihan terakhir dilakukan pada tanggal 19 Maret 2022, yaitu membimbing para peserta untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas standar, mengalokasikan beban overhead dan biaya produksi bersama ke produk, sehingga harga jual dapat lebih akurat.
Ucapan ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇ (Acknowledgement)
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kami, Rektor Universitas Tarumanagara, Ketua LPPM Universitas Tarumanagara, Dekan dan segenap pimpinan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara, PT Felixindo Rubber Berkarya serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
REFERENSI
▇▇▇▇▇▇▇▇, A. A., ▇▇▇▇▇▇, R. S., ▇▇▇▇▇▇▇▇▇, E. M., dan ▇▇▇▇▇, S. M. (2013). Management Accounting: Information for Decision-Making and Strategy Execution. 6th Edition. London: Pearson.
▇▇▇▇▇▇▇, E. J., ▇▇▇▇▇, D. E., ▇▇▇▇▇, P. E., & ▇▇▇▇▇, S. (2019). Cost Management-A Strategic Emphasis. Eight Edition. New York: McGraw Hill.
▇▇▇▇▇, S. M., dan ▇▇▇▇▇, M. V. (2018). ▇▇▇▇▇▇▇▇’▇ Cost Accounting-A Managerial Emphasis. 16th Edition. London: Pearson
▇▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇. ▇, dan ▇▇▇▇▇▇▇▇▇, J. L. (2016). Management Accounting in Dynamic Environment. 1st Edition. New York: ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ & ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇.
Mutiah, N. A, ▇▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇., dan ▇▇▇▇▇▇▇, Y. (2020). Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Dengan Penerapan Activity Based Costing (Studi Kasus pada PT. Peni Regency Tahun 2019). Jurnal Ilmiah Edunomika, 4(2), 347-357.
▇▇▇▇▇, ▇., ▇▇▇ ▇▇▇▇▇, T. (2013). Advanced Management Accounting. 1st Edition. London: Pearson.
▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇., ▇▇▇▇▇, ▇., ▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇, F. (2020). Managerial Accounting. 4th Edition. New York: McGraw Hill Education.
LAMPIRAN 4
Luaran Tambahan
ACTIVITY BASED COSTING SEBAGAI ALAT UNTUK PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK YANG KOMPETITIF DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA PT FELIXINDO RUBBER BERKARYA
* ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇
** ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ (125190075)
Bagaimana menetapkan harga jual yang kompetitif di masa pandemic Covid-19?
Masa pandemi ini merupakan masa yang sangat sulit yang dihadapi oleh hampir semua perusahaan dalam berbagai industri. Banyak perusahaan yang tidak dapat bertahan untuk tetap hidup di masa pandemi ini. Berbagai macam cara dan strategi dilakukan oleh perusahaan agar dapat bertahan hidup. Salah satu strategi yang paling mudah dan banyak dilakukan oleh perusahaan adalah dengan cara menyesuaikan harga jual produk. Untuk melakukan strategi ini, perusahaan harus memahami secara mendalam mengenai struktur biaya yang ada di perusahaan. Perusahaan harus yakin bahwa di dalam melakukan perhitungan beban pokok produksi sudah tepat dan akurat karena jika terjadi kesalahan dalam menghitung beban pokok produksi akan fatal akibatnya bagi perhitungan laba perusahaan dan juga perusahaan dapat melakukan pengambilan keputusan yang salah dan fatal terkait dengan proses penentuan harga jual produk.
Masalah yang dihadapi Mitra
PT Felixindo Rubber Berkarya, yang berlokasi di Bekasi, adalah perusahaan industri yang memproduksi berbagai variasi produk karet untuk keperluan industri, otomotif, dan rumah tangga seperti karet bellows, karet ebonit, karet expansion joint, karet fender, karet lining, karet O ring, karet karpet, karet kaki meja, dan karet komponen audio. Masalah yang dihadapi perusahaan adalah perusahaan semakin merasa kesulitan di dalam bersaing dengan para pesaingnya terutama bersaing di faktor harga. Saat ini kinerja keuangan perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan dimana omset penjualan dan laba perusahaan turun.
Solusi Permasalahan Mitra
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka PT ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ Berkarya meminta tim dosen dan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Tarumanagara untuk membantu perusahaan dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi perusahaan. Atas permintaan perusahaan, maka tim dosen dan mahasiswa yang memberikan pelatihan kepada pemilik dan karyawan.
Kegiatan pelatihan dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada tanggal 5, 12, dan 19 Maret 2022, melalui Zoom. Untuk mendukung kegiatan pelatihan ini, tim dosen telah menyusun modul mengenai jenis-jenis biaya, elemen dari harga pokok produksi, menentukan harga pokok produksi dengan metode konvensional dan kelemahannya, sehingga lebih baik menggunakan sistem activity-based costing. Inilah penjelasan yang diberikan pada tanggal 5 Maret 2022, bahwa metode konvensional yang selama ini digunakan perusahaan memiliki kelemahan sehingga perusahaan sebaiknya menggunakan sistem ABC memiliki tingkat presisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknik perhitungan biaya tradisional.
Pelatihan kedua dan ketiga, yang diberikan pada tanggal 12 Maret 2022, di mana para peserta pelatihan dijelasakan mengenai cara penentuan tarif dengan menggunakan sistem activity- based costing dan juga kelemahan dari sistem tersebut. Para peserta diminta untuk mencoba menghitung harga pokok produksi, yang selama ini menggunakan sistem tradisional, dengan menggunakan sistem activity-based costing, dikarenakan mereka telah mendapatkan teorinya dan sekarang adalah saat yang tepat untuk menerapkan sistem yang baru dipelajari agar mereka dapat menghitung harga pokok produksi dengan tepat.
Pertemuan terakhir yaitu pada tanggal 19 Maret 2022, kami masih membimbing para peserta agar mereka dapat mengidentifikasi aktivitas-aktivitas standar, dapat mengalokasikan beban overhead dan biaya produksi bersama ke produk. Dengan demikian, perhitungan harga pokok produksi akan menjadi lebih akurat dan pada akhirnya penentuan harga jual produk juga dapat lebih akurat.
Berikut adalah foto saat pelatihan sedang berlangsung:
Gambar 1. Pelaksanaan kegiatan PKM
Hasil dari Pelaksanaan PKM
Kegiatan pelatihan ini berjalan dengan baik dan peserta banyak mengajukan pertanyaan. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan bahwa para peserta sudah lebih mengerti cara untuk menghitung harga pokok produksi akan menjadi lebih akurat dan pada akhirnya penentuan harga jual produk juga dapat lebih akurat. Dengan demikian, pelatihan yang diberikan oleh tim dosen dapat bermanfaat bagi perusahaan.
*Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara
**Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara
LAMPIRAN 5
Poster
