PANDUAN PERJAMUAN KUDUS BERSAMA ANAK
KEPUTUSAN RAPAT KERJA III GEREJA TORAJA Nomor: 07.R3.2023
Tentang
PANDUAN PERJAMUAN KUDUS BERSAMA ANAK
DENGAN PERTOLONGAN ALLAH BAPA, ANAK DAN ROH KUDUS, RAPAT KERJA III GEREJA TORAJA,
Menimbang : a. bahwa menjadi tugas Rapat Kerja III Gereja Toraja untuk membahas dan menetapkan panduan Perjamuan Kudus bersama anak;
b. bahwa untuk maksud tersebut di atas, Rapat Kerja III Gereja Toraja perlu mengeluarkan Surat Keputusan.
Mengingat : 1. Pengakuan Gereja Toraja.
2. Tata Gereja Toraja.
3. Keputusan Sidang Sinode Am XXV Gereja Toraja.
Memperhatikan : 1. Keputusan Rapat Kerja III Gereja Toraja Nomor 02.R3.2023 tentang Jadwal Acara Rapat Kerja III Gereja Toraja.
2. Keputusan Rapat Kerja III Gereja Toraja Nomor 04.R3.2023 tentang Laporan Badan-Badan Angkatan Sinode Am XXV.
3. Rumusan dari Tim Kerja Perjamuan Kudus bersama anak.
4. Pendapat dan saran dari peserta Rapat Kerja III Gereja Toraja.
M E M U T U S K A N
Menetapkan : KEPUTUSAN TENTANG PANDUAN PERJAMUAN KUDUS BERSAMA ANAK
Kesatu : Menerima rumusan Tim Kerja Perjamuan Kudus Bersama Anak yang diajukan oleh ▇▇▇ setelah mendapat perbaikan sebagaimana mestinya.
Kedua : Mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada ▇▇▇ ▇▇▇▇▇ Perjamuan Kudus Bersama Anak atas karya pelayanan yang telah dilakukan.
Ketiga : Merekomendasikan BPS Gereja Toraja untuk menyempurnakan dan menjemaatkan Panduan Perjamuan Kudus bersama Anak pada diktum kesatu untuk menjadi pedoman penatalayanan.
Keempat : Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan dan akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya apabila terdapat kekeliruan di dalamnya.
Ditetapkan di : Tangmentoe
Pada tanggal : 01 November 2023
Pimpinan Rapat Kerja III Gereja Toraja
Ketua Umum, Sekretaris Umum,
Pdt. Dr. ▇▇▇▇▇▇ ▇. ▇. ▇▇▇▇▇i, ▇.▇▇. Pdt. Dr. ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, ▇.▇▇.
30
Lampiran 1 Keputusan Rapat Kerja III Gereja Toraja
Nomor : 07.R3.2023.
Tanggal : 26 Oktober 2022.
Tentang : PANDUAN PERJAMUAN KUDUS BERSAMA ANAK
A. Pendahuluan
PERJAMUAN BERSAMA ANAK
Pemahaman dan Panduan Pelaksanaan Perjamuan Kudus Gereja Toraja
Upaya penemuan kembali hakikat pelaksanaan Perjamuan Kudus dalam Gereja Toraja sudah lama digumuli. Dasar teologis Gereja Toraja dengan jelas mengacu secara utuh pada tradisi Perjamuan Paskah (PL) dan penetapan perayaan pengenangan akan diri ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ (PB). Termasuk rujukan pada sejarah gereja perdana, gereja Reformasi hingga kedatangan Injil di Indonesia, khususnya pengaruh institusi induk Gereja Toraja yakni Gereformeede Zendingsbond (GZB) yang beraliran reformed.
Dari pergumulan panjang tersebut disadari bahwa Perjamuan Kudus berperan sangat penting bagi pertumbuhan rohani anak-anak serta salah satu bentuk penginjilan untuk menyebarkan ajaran- ajaran Kristus, termasuk bagi anak-anak. Partisipasi anak-anak dalam Perjamuan Kudus merupakan bagian pemeliharaan Allah setelah mereka dibaptis. Masa anak-anak adalah saat paling potensial untuk menanamkan iman Kristen. Pelayan Perjamuan Kudus anak sejak kecil akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan iman dan memberi dasar bagi pertumbuhan gereja sebagai persekutuan orang kudus.
Iman yang ditanamkan sejak kecil akan berakar menjadi pengenangan akan kasih Kristus dan berbuah bagi pelayanan Gereja Toraja di masa yang akan datang. Komitmen gereja terhadap pelayan anak harus berkelanjutan. Ketika anak-anak mengalami Perjamuan Kudus sambil mengenangkan pengorbanan Kristus, maka simbol seperti roti dan anggur akan meninggalkan memori yang kuat dan indah dalam ingatan mereka.
Sesuai dengan janji orangtua atau wali dan anggota jemaat, yang diungkapkan dalam Liturgi Baptisan Anak, pengikutsertaan anak dalam Perjamuan Kudus sangat terkait dengan pembinaan iman anak-anak. Pelibatan anak-anak dalam Perjamuan Kudus adalah simbol penerimaan yang utuh sebagai anggota Tubuh Kristus dan Keluarga Allah. Persekutuan Tubuh Kristus dan Keluarga Allah menjadi lebih holistik dan tidak terpecah-pecah karena batasan umur. Iman anak dapat tumbuh subur dalam suasana kebersamaan sebagai persekutuan yang dirangsang melalui proses tindakan dan refleksi dalam Perjamuan Kudus.
Melalui tindakan dalam persekutuan seperti ini, iman seseorang dapat berkembang melalui proses kebersamaan tersebut. Karena itu, dengan komunitas iman sebagai pendekatan, semua anggota memiliki peran penting dalam perkembangan iman setiap individu. Anak-anak dapat tumbuh menjadi orang Kristen dalam komunitas karena komunitas berfungsi sebagai guru dan lingkungan pendidikan Kristen. Yang juga tidak kalah penting adalah persekutuan iman ini ada bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga menjadi satu dalam pelayanan bersama agar sanggup melayani dan menjadi berkat bagi orang lain.
B. Tanya-Jawab Pemahaman Perjamuan Bersama Anak
1. Apa itu Perjamuan Kudus, menurut Gereja Toraja?
Jawaban:
Dasar pelaksanaan Perjamuan Kudus Gereja Toraja tercantum dalam Pengakuan Gereja Toraja (PGT) Bab VI yang menguraikan bahwa ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ mengaruniakan kepada gereja- Nya Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus sebagai alat anugerah dan tanda perjanjian-Nya, yaitu Firman yang kelihatan. Kedua sakramen itu adalah tanda dan meterai anugerah keselamatan berdasarkan kematian dan kebangkitan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇. Baptisan menandakan bahwa kita termasuk anggota Tubuh Kristus dan Perjamuan Kudus menandakan bahwa kita bersekutu dengan Kristus dan sesama anggota.
Baptisan dan Perjamuan Kudus sebagai tanda perjanjian Allah dan persekutuan tidak dapat dipisahkan satu daripada yang lain. Di dalam Baptisan kita dipersatukan ke dalam kematian Kristus dan dengan demikian kita disucikan dari segala dosa kita dan dibangkitkan bersama Kristus kepada kehidupan baru. Baptisan dilayankan satu kali saja kepada setiap anggota jemaat, baik yang dewasa maupun anak-anak. Berdasarkan perjanjian Allah, anak- anak anggota jemaat wajib dibaptiskan. Orangtua bertanggung jawab membimbing anak- anaknya kepada pengenalan akan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ untuk sendiri mengaku imannya.
Sakramen adalah Firman yang kelihatan. Sebab itu, ia tidak dapat dipisahkan dari pemberitaan Firman. Sakramen adalah tanda persekutuan dan jaminan keselamatan untuk menghiburkan kita dan menguatkan iman kita. Air, roti, dan anggur di dalam sakramen tidak mempunyai kekuatan dalam dirinya sendiri. Anugerah yang ditandai dan dimeteraikannya baru berlaku bagi kita bila kita menerimanya dengan iman yang sungguh. Perjamuan Kudus adalah jaminan bagi kita, bahwa dosa kita telah diampunkan di dalam ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ dan kita telah bangkit kepada kehidupan baru dalam persekutuan dengan Dia.
2. Mengapa sebelumnya anak tidak ikut dalam Perjamuan Kudus yang dilaksanakan Gereja Toraja?
Jawaban:
Gereja Toraja mengalami perkembangan teologi dari warisan Teologi Perjamuan Calvinisme yang dibawa GZB. Misalnya, sejak ditetapkan PGT, Gereja Toraja tidak lagi menggunakan Tiga Naskah Keesaan (TNK) Gereja-gereja Belanda menjadi PGT dan menerima menetapkan bahwa perempuan dapat menjadi Pejabat Gerejawi sejak 1984.
Teologi Perjamuan Gereja Toraja sebelumnya sangat menekankan pengertian (rasio) pada makna iman dalam tanda roti dan anggur dalam Sakramen Perjamuan Kudus. Sebaliknya, Sakramen Baptisan tidak menuntut pemahaman terhadap pemaknaannya. Dulu, anak-anak tidak diikutkan PK karena orang dewasa ragu terhadap kemampuan pikir anak dalam memahami arti PK. Justru di sinilah peran vital gereja dan orangtua dalam menanamkan sedini mungkin iman terhadap pengorbanan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ yang dirayakan dalam PK, sebelum pemahaman mereka dibanjiri dengan budaya negatif yang bertentangan dengan iman Kristen. Dengan melaksanakan praktik iman melalui PK secara berulang-ulang, iman anak-anak diharapkan bertumbuh dan menjadi kuat menghadapi pengaruh negatif lingkungan dan media. Orang Israel mempraktikkan Paskah sejak dini kepada anak-anak untuk membangun dasar iman yang kuat dalam dirinya. Hal ini dapat dilacak dalam PL dan PB yang menegaskan bahwa tidak ada nada penolakan terhadap keterlibatan anak dalam PK.
3. Apakah praktik Perjamuan Kudus Gereja Toraja sebelumnya salah?
Jawaban:
Praktik sebelumnya tidak salah! Sebab, hal tersebut sesuai dengan pemahaman teologi pada konteks saat itu. Hal itu merupakan bagian dari dinamika berteologi Gereja Toraja. Kemajuan berteologi ini hendak melanjutkan esensi dalam konsep anugerah Tubuh dan Darah ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ bagi anak-anak, sebagai anggota persekutuan Keluarga Allah (PGT).
Inti dari pemahaman sebelumnya adalah penanaman iman pada kasih dan pengorbanan Kristus, serta karya penyelamatan-Nya bagi dunia ini. Justru ketidaktahuan anak mengenai arti
PK sebenarnya dapat menjadi titik tolak gereja melibatkan anak-anak dalam PK sebagai misteri kasih Allah. Bahkan, sesungguhnya tidak ada seorangpun yang sanggup mengerti secara sempurna betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. Misalnya, ketidaksanggupan kita memahami peristiwa Allah menjadi manusia di dalam kelahiran Kristus.
4. Bagaimana Membaca 1 Korintus 11 Secara Bertanggung Jawab?
Jawaban:
Cara baca pada waktu lampau benar. Namun dalam studi dan kajian, ternyata kita bisa membacanya secara berbeda dan mendalam. Nasihat ▇▇▇▇▇▇ kepada jemaat di Korintus bukanlah suatu kesalahan doktrinal ataupun kesalahan dalam pelaksanaan liturginya, tetapi justru yang terjadi adanya kesalahan etis yakni tidak dilandasi oleh kasih. Mereka makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan dan penyingkiran orang lain yang dilakukan oleh Jemaat Korintus, itulah yang ditegur oleh ▇▇▇▇▇▇.
Pengujian diri (censura morum) dilakukan bukan berdasarkan standar moral atau kesalehan seseorang serta tradisi gereja. Karena itu, hal itu tidaklah bertanggung jawab bila kita memakai 1 Korintus 11 untuk menghalangi atau menyingkirkan orang lain. Sebaliknya, kita diminta untuk ”... kalau kalian berkumpul untuk makan pada perjamuan Tuhan, kalian harus saling menunggu (sikampankomi).”Jadi, ajaran ▇▇▇▇▇▇ tidak bermaksud merombak aspek doktrinal yang berlaku secara turun-temurun di kalangan orang Yahudi. Akan tetapi, ▇▇▇▇▇▇ menekankan suasana perayaan Perjamuan Kudus di Korintus yang tidak lagi sesuai dengan suasana Perjamuan, sehingga mereka menganggap pesta makan bersama seperti hal yang biasa.
5. Mengapa anak patut diterima dalam Perjamuan Kudus Gereja Toraja? (penjelasan perubahan teologi perjamuan Gereja Toraja-perluasan praktik)
Jawaban:
Perjamuan adalah Pesta Buah Sulung. Setiap orang yang sudah dibaptis boleh berpesta dalam Perjamuan. Menurut PGT, (Bab VI, tentang umat Allah, pasal 8), sakramen adalah tanda dan meterai anugerah keselamatan. Karena itu, dasar seseorang diterima dalam Perjamuan Kudus tidak terletak pada umur atau pengertian, melainkan pada anugerah. Sejatinya, pasal 8 ini memakai frase kunci: karunia, anugerah, dan iman; yang mana ketiganya melampaui dimensi kognitif dan kategorisasi umur (Teologi anugerah dalam PGT melebihi konsep pemahaman atau pengertian).
Kemudian, anak-anak seharusnya tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri menerima nilai sekularisme akibat dijauhkan dari penanaman nilai iman kepada ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇. Memberi peran untuk terlibat dalam sakramen PK justru dapat meneguhkan iman mereka pada ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇. Terlebih bila hal ini dilakukan berulang-ulang. Walaupun pengetahuan anak tentang PK hanya ala kadarnya bahkan sangat kurang, tetapi seyogianya gereja harus yakin bahwa “daya sakramen” (misteri) PK dalam hidup manusia melampaui kesadaran dan pengertiannya. Anak- anak yang telah dibaptis hendaknya sedini mungkin dilibatkan dan diberi peran dalam perayaan Perjamuan Kudus.
6. Apakah makna kata “BERSAMA” dalam Perjamuan?
Jawaban:
Perjamuan dilaksanakan secara bersama-sama melambangkan kesatuan dalam Keluarga Allah dan tidak ada pengecualian, termasuk anak-anak. Kebersamaan ini merupakan persekutuan yang mewujudkan Tubuh Kristus, dalam hal ini gereja. Karena itu, setiap warga gereja berhak dan seharusnya terlibat dalam Perjamuan Kudus.
Tema sentral dari iman Kristen adalah pengorbanan dan anugerah keselamatan di dalam ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇. Karena itu, Allah mengundang semua orang masuk ke dalam Perjamuan Kudus. Kebersamaan dalam Perjamuan Kudus merupakan situs bagi umat-Nya untuk mengenang pengorbanan dan anugerah itu. Selanjutnya, kebersamaan orangtua dan anak merupakan
medan peneladanan cinta kasih, bahkan menjadi peristiwa yang akan dikenang oleh anak tentang teladan iman orangtuanya. Seisi rumah seharusnya ikut dalam perjamuan. Sebab, dalam teologi makan kelaurga, orangtua dan anak tidak ada pemisahan.
7. Apa syarat mengikuti Perjamuan?
Jawaban:
Perjamuan keluarga Allah terbuka bagi semua anggota Tubuh Kristus. Syarat mengikuti Perjamuan Kudus adalah Baptisan dan kesiapan. Prinsip teologis, merujuk baptis (sunat baru) sebagai acuan seorang anak Kristen layak me▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇ Perjamuan. Jadi, syarat utama adalah Sakramen Baptisan Kudus yang menandakan seseorang telah menjadi anggota Tubuh Kristus. Sedangkan kesiapan yang dimaksud adalah dukungan orang tua/wali anak untuk mengikuti Perjamuan Kudus.
8. Berapa umur yang tepat seorang anak ikut Perjamuan Kudus?
Jawaban:
Sebenarnya, tidak ada patokan usia. Anak sudah bisa merespons apa yang telah dibicarakan dalam penjelasan singkat di atas tentang Perjamuan Kudus dan mereka ingin mengingat ▇▇▇▇▇ serta berterima kasih kepada-Nya atas apa yang Ia lakukan untuk menebus dosa-dosa, maka anak sudah siap. Anak yang belum bisa merespons percakapan (bayi), keikutsertaannya sepenuhnya ada dalam keputusan orangtua.
9. Apakah Perjamuan bersama anak adalah wujud nilai Kerajaan Allah?
Jawaban:
Perjamuan bersama anak adalah bentuk dari persekutuan Kerajaan Allah. Karena, Baptisan menandakan keanggotaan Kerajaan Allah. ▇▇▇▇▇ justru melihat anak-anak punya “posisi istimewa.” Khususnya ketika Ia berbicara mengenai Kerajaan Allah dan iman. ▇▇▇▇▇ menunjuk iman seperti anak-anaklah yang layak dan pantas masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mrk. 10:14). Dalam hal ini, perayaan Perjamuan Kudus berbicara tentang dua inti pengajaran ▇▇▇▇▇ tersebut, yakni Kerajaan Allah dan iman.
Melalui Perjamuan makan bersama orang-orang yang disingkirkan (Mrk. 2:16, 19), ▇▇▇▇▇ menampilkan makna kedatangan dan kehadiran Allah yang berbelarasa. Kedatangan Kerajaan Allah menunjuk pada datangnya keselamatan yang merangkul semua orang, juga terutama yang “hilang” dan berdosa. Rencana karya ▇▇▇▇▇ terlihat jelas dalam khotbah perdana-Nya: “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan” (Luk. 4:18-19).
10. Apakah perjamuan menjadi tidak “matokko” jika anak terlibat, misalnya: anak-anak ribut dalam perjamuan?
Jawaban:
Perjamuan Kudus, sebagai gambaran Kerajaan Allah, adalah perayaan dan penanaman nilai iman melalui pengingatan (anamnesis) akan Kristus, bukan upacara atau ritus protokoler yang kaku. Matokko, sakral, khidmat atau khusyuknya suatu ibadah sangat tergantung pada penghayatan iman masing-masing anggota jemaat. Hal esensial Perjamuan Kudus bagi anak merupakan gambaran pesta Perjamuan Anak Domba di Kerajaan Allah.
Potensi ketidaktertiban dan ketidaksabaran anak menjadi ruang bagi orangtua untuk mendidik sikap sabar dan tertib, sebagai salah satu wujud proses beriman . Didikan orangtua kepada anak dengan kasih dan lemah lembut tentu dibutuhkan dalam rangka membangun interaksi rohani sekaligus menjadi wadah pendidikan spiritual yang efektif dalam keluarga.
Dari beberapa observasi di gereja yang telah melaksanakan Perjamuan Kudus bersama anak, terlihat bahwa mereka justru bisa tenang dan tertib karena gereja melalui orang dewasa mendidik anak-anak.
11. Bagaimana peran orang tua/wali dalam Perjamuan?
Jawaban:
Orangtua/wali harus bergabung dalam Perjamuan dan mendampingi anak. Karena itu, orangtua/wali sebaiknya duduk bersama anak. Peran mereka dalam menyiapkan dan mendampingi anak mengikuti Perjamuan Kudus, berkaitan dengan janji orangtua untuk mendidik anak agar bertumbuh dalam iman, sebagaimana telah diikrarkan oleh orangtua/wali di hadapan Tuhan dan jemaat pada saat anak tersebut dibaptis.
12. ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ pendidikan anak tampak dalam Perjamuan Kudus?
Jawaban:
Gereja Toraja menekankan pendidikan anak secara teologis-kontekstual. Sebab, pada Perjamuan meja-lah pendidikan dan pewarisan nilai kristiani dapat dilakukan. Perbuatan yang dilakukan bersama-sama dalam satu keluarga Allah (termasuk anak-anak) menjadi wahana visual untuk mengingat (anamnesis) karya penyelamatan Kristus bagi semua pengikut-Nya (teologi keluarga).
Dengan demikian pendekatan Perjamuan Kudus dalam konteks Gereja Toraja dapat menjadi sarana pengajaran teologis, untuk mengingatkan hakikat janji keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus. Niscaya, pengingatan secara berulang-ulang sejak dini jauh lebih meneguhkan dan mendasar dalam ingatan anak-anak. Anamnesis bagi anak-anak bukan terutama pada pengajaran verbal, tetapi pada perbuatan langsung (praxis). Karena, Roh Kudus bekerja melampaui batas akal, umur, dan golongan.
Sistem pendidikan kaum Israel diformat agar setiap anak (khususnya bungsu) terlatih dan berani bertanya (bdk. sistem pendidikan kita). Sementara, cara tercepat memperoleh pengetahuan adalah bertanya (Kel. 12:26). Dasar biblis Gereja Toraja dalam hal ini merujuk pada teologi janji Tuhan dalam pedagogi Israel sebagai umat pilihan (Kel. 19:5, dan Ul. 7:6) Mendengarkan dan menyimak Firman Tuhan adalah syarat menjadi milik kesayangan Allah. Pilihan Allah adalah benar-benar hanya karena anugerah semata (bukan standar kualitas inheren atau tingkat pemahaman).
13. Apakah anak bisa mandiri (sendiri) mengikuti Perjamuan?
Jawaban:
Anak harus dalam pendampingan orangtua/wali sampai mereka bisa mandiri. Anak- anak boleh ikut secara mandiri setelah dipandang oleh orangtua/walinya, cukup mampu untuk mengontrol dan menertibkan diri sendiri.
Orangtua/wali bertanggungjawab memperhatikan kesiapan anak bila sudah bisa merespons dalam percakapan bersama orangtua/wali. Jadi dalam hal ini, yang menentukan kesiapannya adalah orangtua/wali berdasarkan pengamatan pada anak tersebut dan/atau anak itu sendiri. Wali dalam hal ini bisa keluarga dekat, atau kerabat dekat, atau bisa juga dari majelis gereja.
14. Bagaimana dengan anak yang siap ikut tetapi lagi sakit di rumah?
Jawaban:
Prosedur pelayanan bagi anak yang sakit sama dengan pelayanan perjamuan bagi orang sakit dan lansia, sambil tetap didampingi oleh orangtua/wali. Kondisi lemah seorang anak tidak boleh menjadi alasan penyingkiran anak dari penerimaan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇.
15. Apa jenis materi Perjamuan Kudus bagi anak (roti dan anggur)
Jawaban:
Gereja Toraja memahami bahwa materi perjamuan, roti dan anggur, adalah simbol. Sebaiknya materi anggur yang dipilih bagi anak adalah yang non-alkohol (misalnya juice anggur). Ukuran roti dan porsi anggur disesuaikan dengan umur dan perkembangan pola makan anak. Dalam hal ini orangtua/wali yang paling berperan menentukan kesesuaian porsi anggur dan roti dengan kebiasaan atau pola makan anak.
16. Model Liturgi dan Manajemen Ibadah seperti apa yang tepat dalam Perjamuan bersama anak?
Jawaban:
Model liturgi atau manajemen ibadah yang digunakan dalam Perjamuan bersama adalah model ibadah lintas-generasi dengan memperhatikan kesederhanaan bahasa, adaptasi leksionari, sinkronisasi jadwal ibadah, pengaturan partisipan, dan efektivitas durasi ibadah.
17. Berapa kali Perjamuan Kudus dilaksanakan dalam jemaat?
Jawaban:
Frekuensi pelayanan Perjamuan Kudus disesuaikan dengan konteks jemaat dan atas kesepakatan majelis gereja.
18. Di mana Perjamuan bisa dilaksanakan?
Jawaban:
Pelaksanaan Perjamuan Kudus, secara umum dilaksanakan di gedung gereja, namun dalam kebutuhan tertentu dapat dilayankan di rumah bahkan juga di rumah sakit (bagi: lansia, anak, ODGJ, kaum difabel, dan orang yang memiliki keterbatasan pergi ke gereja). Hal yang utama adalah perlunya persiapan, serta pengaturan terlebih dahulu oleh majelis gereja dengan menimbang permintaan warga jemaat.
C. Percakapan Pendampingan Orang Tua bagi Anak
Pemahaman Awal
• Percakapan selalu dimulai dengan doa.
• Bagi bayi yang sudah dibaptis, orangtua melakukan percakapan melalui nyanyian seperti dilellenan sebagaimana kebiasaan mendoakan anak dalam tradisi orang Toraja, atau diuleleanni seperti berbicara secara monolog melalui pembacaan sebuah perikop cerita dari Alkitab.
• Percakapan pendeta bersama para pelayan anak (guru Sekolah Minggu, diaken, dan penatua) untuk mempersiapkan pelayanan Perjamuan Kudus. Perencanaan dan persiapan dapat dilakukan di kebaktian anak, di rumah bersama orangtua masing-masing, atau di kelompok pelayanan tertentu, atau bisa juga bersama-sama di gereja pada Jumat atau Sabtu menjelang Minggu pelaksanaan Sakramen Perjamuan.
• Bagi Kaum kaum difabel, lansia, dan ODGJ, percakapan tetap dilakukan dengan cara tulis, diskusi, isyarat, visual gambar-komik, animasi-video, atau pola lainnya yang bisa dilakukan secara interaktif.
• Kendala bisa saja muncul, sehingga sangat dibutuhkan adanya kerjasama yang baik antara orangtua dan anak, para pelayan anak, serta majelis gereja.
Percakapan dan Pertanyaan
Saat pelaksanaan Perjamuan Kudus, orangtua dapat mengadakan percakapan bersama anaknya. Anak-anak yang sudah dapat diajak berdiskusi dengan menanyakan dan menjelaskan dalam bahasa sederhana.
1. Bagaimana engkau mengingat sahabatmu?
Orangtua-wali dapat mempercakapkan tentang adakah orang-orang tertentu yang punya tempat istimewa dalam hidup keluarga kita atau anak kita. Kita juga dapat menanyakan seseorang yang sudah pindah ke tempat lain, namun punya kesan mendalam. Kendatipun tidak ada lagi di dekat kita secara fisik, kita bisa dengan bersukacita membicarakan dan mengenang semua momen berharga yang pernah kita alami bersama mereka.
Orangtua boleh mempersiapkan foto kenangan orang tersebut, atau menanyakan peristiwa yang berkesan untuk diceritakan. ▇▇▇▇▇ juga mengambil benda atau hadiah peninggalan orang tersebut untuk mengenang hal-hal yang masih dapat diingat untuk diceritakan.
2. Setelah berdiskusi bersama anak kita, bacakanlah:
”▇▇▇▇▇ adalah sahabat yang sangat baik dan ▇▇▇▇▇ dengan perhatian dan cinta kasih. Kenangan tentang-Nya tidak mungkin dilupakan, jadi kita harus tetap setia mengingat pengorbanan dan cinta-Nya bagi kita. ▇▇▇▇▇ punya rasa kasih yang mendalam terhadap dirimu (ajak anak membaca Ef. 1:4). ▇▇▇▇▇ juga rindu agar engkau menjalin persahabatan yang kuat dengan-Nya, bahkan Dia mengasihimu meskipun kau belum mengenal-Nya (bacakan Yoh. 3:16).”
3. Perjamuan Kudus untuk mengingat ▇▇▇▇▇
Sebelum ▇▇▇▇▇ wafat di atas salib, Ia memberi sesuatu kepada kita agar kita selalu mengingat- Nya. Ia tahu bahwa kita cenderung lupa pada hal-hal yang paling penting sekalipun. Ia makan malam bersama teman-teman terbaik-Nya, yakni para murid. Saat mereka sedang makan Perjamuan Kudus, ▇▇▇▇▇ mengambil sepotong roti lalu membagi-baginya kepada murid- murid-Nya. (bacakan Mat. 26:17–30 untuk menjelaskan lebih banyak tentang Perjamuan Kudus Tuhan.)
4. Bagaimana Perjamuan Kudus dilaksanakan?
Di beberapa gereja, orang-orang mengambil sepotong roti dan segelas kecil jus anggur. Kemudian ada seseorang memberi instruksi: “ambillah dan makanlah” serta “ambilah dan minumlah”, atau ada juga yang masih ditunggu sampai semua orang dilayani. Di beberapa gereja, ada yang mencelupkan roti ke dalam jus lalu membagikan banyak cangkir kecil atau sloki.
Sebelum dimakan dan diminum, seseorang mengingatkan kita dengan mengulangi kata- kata yang diucapkan ▇▇▇▇▇ sebelum Ia meninggal: “Aku sangat rindu makan Paskah ini
bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita”dilanjutkan dengan berkata: “Inilah
tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.”
▇▇▇▇▇▇ berpendapat bahwa perayaan lahiriah tidak penting, tidak peduli apakah orang
menerimanya dengan tangan atau tidak, apakah rotinya beragi atau bukan, apakah dibagikan atau tiap orang maju untuk mengambilnya, atau apakah anggur merah atau putih; yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan gereja.
5. Apa lagi yang anak-anak perlu tahu tentang Perjamuan Kudus?
Anak-anak perlu belajar melakukan pengampunan seperti Yesus. Ajarlah anak-anak bertanya pada diri sendiri, “Aku juga mau mengampuni" Alkitab mengajarkan anak-anak, waktu ikut Perjamuan Kudus, kalau tahu sudah salah kepada orang lain atau masih marah, maka segera minta maaf, jangan ditunda-tunda!
D. Fomulir Naskah Litugis/Kada Mangullampa dan Liturgi Perjamuan
Minggu Persiapan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pada hari Minggu yang akan datang, kita akan mengadakan Perjamuan Kudus.
▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ telah menitahkan kepada murid-murid-Nya untuk terus memeringati pengorbanan-Nya sampai Ia datang kembali dalam kemuliaan Kerajaan-Nya (Luk. 22:14-20). Berdasarkan titah itu jugalah, ▇▇▇▇▇▇ menasihatkan kepada jemaat di Korintus, demikian:
Sebab, apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan ▇▇▇▇▇, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah Ia mengucap syukur, Ia memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku! Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “ Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku. Lakukanlah ini, setiap kali kamu meminumnya, sebagai peringatan akan Aku! (1 Kor. 11:23-25).
Titah ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ itu ditujukan kepada semua orang percaya di segala tempat dan waktu. Untuk itu, kita yang telah satu di dalam Baptisan juga diundang ke dalam Perjamuan Kudus-Nya. Di dalam Baptisan, tidak ada lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang- orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Ef. 2:19). Keikutsertaan dalam Perjamuan Kudus menandakan persekutuan dengan Allah Tritunggal. Dengan demikian, Baptisan dan Perjamuan Kudus tidak dapat dipisahkan.
Minggu Pelaksanaan Perjamuan Kudus
Seperti yang telah disampaikan pada hari Minggu sebelumnya, Perjamuan Kudus adalah suatu pelayanan yang ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ kehendaki untuk tetap dilakukan sampai Ia datang kembali dalam kesempurnaan kerajaan-Nya. Setiap kali kita makan roti dan minum anggur dalam Perjamuan Kudus, kita memeringati pengorbanan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ di kayu salib, yaitu mati dan bangkit untuk menebus kita dari kutuk dosa
(berdiri)
P Keluarga Allah, arahkanlah hatimu kepada Tuhan!
J Kami mengarahkannya kepada Tuhan!
P Marilah kita mengucapkan syukur kepada Tuhan Allah kita dalam doa!
J Sungguh patut kita bersyukur dan memuji Tuhan Allah kita!
Doa Syukur Agung
P Kami memuji-muji-Mu, Ya Tuhan, Bapa yang kudus. Kami mengucap syukur atas segala kekayaan bumi-Mu yang sungguh amat baik. Engkau mencipta kami seturut dengan gambar dan rupa-Mu, serta mengutus kami merawat bumi sebagai rumah bersama agar kami dapat hidup bersama dengan saling mencintai seperti ▇▇▇▇▇▇ mencintai kami dan seluruh ciptaan-Mu.
Sekalipun kami berdosa, ▇▇▇▇▇▇ tetap setia pada perjanjian-Mu dan terus menyatakan kasih-Mu. Engkau membebaskan dan menuntun Bangsa Israel dari perbudakan menuju tanah terjanji. Engkau mengutus para nabi dan banyak orang yang setia kepada-Mu untuk memanggil umat-Mu kembali ke jalan kebenaran-Mu.
Pada saatnya telah tiba, Engkau mengaruniakan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇, Anak-Mu, sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
Menyanyi
……………………
(duduk)
P ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ sendiri menerima baptisan dan peneguhan dari Tuhan untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada yang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, dan untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk. 4:19).
Pada saat perjamuan-Nya yang terakhir, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ menganugerahkan Perjamuan Kudus untuk mengenang dan merayakan kematian dan kebangkitan-Nya. Kemudian, kita sekarang merayakan pesta buah sulung dari sukacita yang kekal. ▇▇▇▇▇ berkata: “Akulah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh.6:35).
Pada hari Ia akan diserahkan, ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ mengambil roti dan mengucap syukur atasnya. Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Lakukankanlah ini sebagai peringatan akan Aku!” Sesudah makan, Ia mengambil cawan dan berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku. Lakukanlah ini, setiap kali kamu meminumnya, sebagai peringatan akan Aku!”
Kami mengenang dan merayakan karya penyelamatan-Mu dalam ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ dan memersembahkan puja dan puji.
J Ya ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇, Kematian-Mu kami beritakan!
Kebangkitan-Mu kami rayakan! Kesempurnaan Kerajaan-Mu kami nantikan!
P Ya Tuhan, Allah semesta alam,
Engkau hadir di dalam Perjamuan Kudus ini melalui Roh Kudus-Mu agar kami dipersatukan dengan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ dengan seluruh umat-Mu di berbagai tempat. Dengannya, kesatuan dalam Kristus dapat benar-benar terwujud.
Taruhlah firman-Mu dalam hati dan mulut kami agar kami mampu menjadi murid-Mu yang setia membawa pengharapan hingga ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ datang kembali dalam kesempurnaan Kerajaan-Nya.
Sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36).
S Menyanyikan: ▇▇▇▇
………………….
Doa “Bapa Kami”
P Kita yang telah dipersatukan oleh satu baptisan dalam Roh Kudus dan Kristus, mari kita berdoa sebagai anak-anak Allah:
S Bapa kami yang di sorga . . .
Pemecahan Roti
Menyanyi
……………………
P (sambil memecah-mecahkan roti pelayan mengucapkan): “Roti yang kita pecah-pecahkan ini adalah persekutuan kita dengan tubuh ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇. Dia berkata: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku!” Ambillah…
Pelayan membagikan roti kepada umat. Roti akan dimakan bersama-sama setelah semua orang mendapatkannya. Sementara roti diedarkan, umat bernyanyi.
Menyanyi
…………………….
P ▇▇▇▇▇ berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Lakukanlah ini sebagai
peringatan akan Aku.” Makanlah…
(makan roti)
Penuangan Anggur
P Cawan minuman yang atasnya kita ucapkan syukur ini adalah perjanjian baru yang
dimeteraikan oleh darah Kristus. Ambillah…
Pelayan membagikan anggur kepada umat dan akan diminum bersama-sama. Sementara anggur diedarkan, umat bernyanyi.
Menyanyi
……………………
P ▇▇▇▇▇ bersabda: “…inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa!” Minumlah…
(minum anggur)
• Selanjutnya, pelayan membaca salah satu nas Alkitab tentang arti dan makna dari pengorbanan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇, kemudian menyanyikan secara bersama salah satu nyanyian yang juga sesuai dengan arti dan makna perjamuan kudus. Masing-masing berdoa,
• Kemudian pelayan mempersilahkan peserta perjamuan kembali ke tempat dengan suatu ucapan selamat.
• Sementara meninggalkan tempat, peserta perjamuan kudus menyerahkan persembahan syukurnya.
• Majelis Gereja mengatur penggunaan tiga model Pelaksanaan Perjamuan Kudus.
• Jika menggunakan model berjalan ke depan, maka Perjamuan Kudus menggunakan rumusan di bawah ini:
Pemecahan Roti dan Penuangan anggur:
P (sambil memecah-mecahkan roti, pelayan mengucapkan): “Roti yang kita pecah-pecahkan ini adalah persekutuan kita dengan tubuh ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇. Dia berkata: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku!”
P (sambil mengangkat dan menuangkan anggur ke dalam cawan, pelayan mengucapkan): Cawan minuman yang atasnya kita ucapkan syukur ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah Kristus.
Mari datang, makan dan minumlah
Menyanyi/ Instrumen
……………………
(Pelayan merapikan meja perjamuan dan kembali ke mimbar)
Doa Setelah Perjamuan
P Ya Allah yang Mahakuasa
J yang merahmati kami dengan Perjamuan Kudus ini.
P Kami mengucap syukur kepada-Mu dengan segenap hati kami,
J karena ▇▇▇▇▇▇ mengasihi kami dengan mengaruniakan Anak-Mu menjadi pengantara dan korban yang satu-satunya untuk segala dosa kami dan sebagai makanan dan minuman untuk hidup yang kekal.
P Kami mengucap syukur karena ▇▇▇▇▇▇ mengaruniakan kepada kami iman yang benar
J sehingga kami telah menerima segala perkara yang baik itu dan menguatkan iman kami dengan mengaruniakan ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇ dalam Perjamuan Kudus ini.
P Ya, Tuhan dan Bapa yang setia, supaya oleh pekerjaan Roh Kudus, Perjamuan Kudus ini menguatkan iman dan persekutuan kami di dalam ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇. Kami sampaikan doa kami ini dalam nama ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇, itulah Tuhan dan Juruselamat.
S Amin.
E. Penutup
Gereja Toraja telah menjalani perjalanan panjang dalam upaya untuk memperbarui praktik Perjamuan Kudus agar sesuai prinsip-prinsip teologis, termasuk keaslian biblis, konteks sejarah, relevan dan kontekstual. Hasil dari upaya kemandirian berteologi ini ditandai melalui dokumen Kep.SSA no: 12/KEP/SSA-XXV/GT/X/2021, yang menggambarkan suatu keputusan iman yang didasarkan pada keyakinan teologis. Buku pedoman ini diharapkan menjadi sebuah panduan yang mencerahkan jemaat dalam rangka mempersiapkan mereka untuk ikut serta berpartisipasi dalam perayaan Perjamuan Kudus. Penting untuk diakui bahwa anak-anak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas gereja (Tubuh Kristus), bukan hanya sebagai masa depan gereja, tetapi juga sebagai anggota yang aktif berkontribusi saat ini. Mereka membawa iman yang turut bertumbuh dan berkembang, seiring waktu bersama-sama dengan jemaat, dan melalui sakramen Perjamuan Kudus, iman ini senantiasa diperbaharui dan diperkuat.
Pengalaman Perjamuan Kudus merupakan saat-saat berharga yang memberi penguatan spiritual, mengingatkan jemaat akan kasih Kristus yang tak terbandingkan, yang telah mengorbankan tubuh dan darah-Nya sebagai tebusan bagi dosa-dosa manusia. Dalam perayaan ini, jemaat diberdayakan untuk tetap teguh dalam iman mereka, untuk bersatu dalam persekutuan, menjadi saksi-saksi kasih Kristus di dunia, serta melayani sesama manusia dengan penuh kasih. Semoga, Perjamuan Kudus juga meletakkan dasar yang kokoh demi menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan anak-anak kita. Harapannya adalah bahwa melalui partisipasi anak-anak dalam Perjamuan Kudus, nama Tuhan akan senantiasa dimuliakan, dan gereja akan menjadi wadah di mana iman tumbuh, kasih terwujud, dan kehadiran Kristus merayakan bersama-sama. Ad Majorem Dei Gloriam.
TIM KERJA PERJAMUAN KUDUS BERSAMA ANAK
(SURAT KEPUTUSAN BADAN PEKERJA SINODE GEREJA TORAJA, Nomor: 018.K45.2023)
Ketua : ▇▇▇. ▇▇. ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇’, ▇.▇▇. Sekretaris : Pnt. ▇▇. ▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇.▇▇
Anggota : ▇▇▇. ▇▇. ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇
: Pdt. Dr. ▇▇▇▇▇▇ ▇. ▇. ▇▇▇▇▇i, ▇.▇▇.
: ▇▇▇. ▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇, ▇.▇▇.
: Pdt. Albatros Palilu, M.Teol.
: ▇▇▇. ▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇, ▇.▇▇., MM.
: ▇▇▇. ▇▇▇▇▇▇▇▇ ▇▇▇▇▇▇▇▇’, ▇.▇▇.
: Pdt. Christanto Sema Rappan Paledung, ▇.▇▇.
: Pnt. Ir. Bunga Rannu Kobong
